Kukis tak berkata apa-apa setelahnya. Hening kembali merayap masuk di antara mereka, tapi kali ini bukan hening yang hampa, melainkan yang berat dan mengisi seluruh ruang. Dalam dirinya, Kukis disergap dilema yang asing dan menyesakkan. Ada kekaguman yang diam-diam muncul—karena tak semua orang bisa mengucapkan kalimat itu dengan tenang. Tapi juga ada rasa malu yang merayap pelan: malu pada dirinya sendiri, yang tak pernah seberani lelaki itu untuk mengakui keinginannya bunuh diri.
“Kenapa?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Kukis. Ia sendiri tak yakin kepada siapa kata itu ditujukan—kepada lelaki itu, atau kepada dirinya sendiri. Mungkin ia ingin tahu alasan orang asing itu, tapi mungkin juga, itu pertanyaan yang sejak lama tertahan dalam dirinya dan baru kini keluar.
Lelaki itu memandang Kukis sambil tetap berbaring. “Sebentar lagi kereta barang lewat. Aku tidak bisa menjelaskan panjang lebar alasanku. Lebih baik kamu pergi. Jangan sampai kamu diminta jadi saksi oleh polisi.”
Kukis memandang ke arah timur, ke jalur rel yang menghilang dalam gelap. Ia tak memakai jam, tapi tubuhnya hafal ritme malam dan dengung besi dari kejauhan. Ucapan lelaki itu tak terdengar seperti ancaman, melainkan pengumuman biasa tentang sesuatu yang pasti akan tiba.
Di sanalah persoalan sebenarnya. Bukan soal alasan kematian, atau tentang siapa yang lebih dulu hancur. Tapi tentang tempat itu—tempat yang Kukis pilih dengan hati-hati, dengan rasa sepi yang tak dibagi siapa pun. Ia tak pernah membayangkan harus menyaksikan orang lain mengambil tempat itu, lebih dulu darinya.
Kukis menyapu pandangannya ke sekitar. Sunyi masih menggantung, nyaris membeku. “Kamu yakin mayatmu bakal ditemukan? Tempat ini… terlalu sunyi. Bisa saja tubuhmu dibiarkan membusuk tanpa ada yang peduli”
Lelaki itu mendengus pelan. “Kamu pikir aku peduli? Mayat ya mayat. Urusannya selesai begitu kereta lewat!”
