Kukis menekuk bibirnya sedikit, seperti ingin tertawa, tapi yang keluar hanya helaan napas sinis. “Kamu terlalu percaya diri soal seberapa penting dirimu buat ditangisi orang.”
Lelaki itu memandang dengan sorot mata yang tajam tapi letih. “Kamu terlalu cerewet untuk seseorang yang bahkan tidak tahu namaku”
“Ya, mungkin. Tapi aku cuma ingin tahu kenapa kamu pilih tempat ini?”
“Kenapa kamu ingin tahu? Apa ini tempat punyamu?”
“Bukan.”
“Ya sudah, jangan banyak tanya! Ini rel kereta, bukan tanah kuburan keluarga. Siapa pun bisa pakai. Sekarang pergi! Aku butuh sedikit privasi.”
“Kalau mau privasi, bunuh diri di rumahmu sendiri.” Kukis memandang lelaki itu tajam. Mereka bertatapan dengan sorot mata yang berbeda, tapi keduanya menyiratkan pesan yang sama: Jangan ganggu aku!
