Pada Sebuah Rel Kereta Tak Bertuan

Tak ada rumah, tak ada lampu jalan, hanya hamparan rerumputan liar dan rel yang seperti menyusuri dunia tanpa akhir. Sepi di sini bukan sekadar hening, tapi seperti perjanjian. Seperti kesepakatan diam antara dunia dan kematian. Ia suka itu—ketiadaan saksi.
Hendra Purnama. Storyteller yang telah berkarya sejak 2004, dengan pengalaman panjang di dunia fiksi, nonfiksi, penyutradaraan serta penulisan skenario. Filmnya yang berjudul Hese Usik Hese Malik menjadi nominasi Best Script Film Festival Film Pendek di TVRI Jawa Barat 2025; skenarionya yang berjudul Foto yang Hilang menjadi finalis lomba skenario film pendek Narasi Kepahlawanan 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan. Saat ini bekerja sebagai scriptwriter di The Panasdalam Pictures dan managing editor The Panasdalam Publishing

Kukis menekuk bibirnya sedikit, seperti ingin tertawa, tapi yang keluar hanya helaan napas sinis. “Kamu terlalu percaya diri soal seberapa penting dirimu buat ditangisi orang.”

Lelaki itu memandang dengan sorot mata yang tajam tapi letih. “Kamu terlalu cerewet untuk seseorang yang bahkan tidak tahu namaku”

“Ya, mungkin. Tapi aku cuma ingin tahu kenapa kamu pilih tempat ini?”

“Kenapa kamu ingin tahu? Apa ini tempat punyamu?”

“Bukan.”

“Ya sudah, jangan banyak tanya! Ini rel kereta, bukan tanah kuburan keluarga. Siapa pun bisa pakai. Sekarang pergi! Aku butuh sedikit privasi.”

“Kalau mau privasi, bunuh diri di rumahmu sendiri.” Kukis memandang lelaki itu tajam. Mereka bertatapan dengan sorot mata yang berbeda, tapi keduanya menyiratkan pesan yang sama: Jangan ganggu aku!

Halaman: 12345678910

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru