PERSPEKTIFNUSANTARA.COM — Menjelang usianya yang ke-79 tahun pada 1 Agustus mendatang, Yayasan Pendidikan Thomas (Yapenthom) menggelar konferensi pers untuk memaparkan rangkaian kegiatan peringatan hari jadi sekaligus mempertegas posisinya sebagai pionir pendidikan menengah di Pulau Flores, Kabupaten Sikka.
Mengusung tema “Yapenthom Buka Jalan, Tebarkan Pendidikan, Kuatkan Masa Depan”, jajaran pengurus yayasan dan pimpinan sekolah di bawah naungan Yapenthom membeberkan dinamika historis, tantangan pendidikan modern, hingga optimisme menatap masa depan.
Buka Jalan dan Tebarkan Pendidikan: Jejak Historis Pionir Flores
Ketua Komite Yayasan Pendidikan Thomas, Thomas Ricky Manek Parera, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan perayaan tahun ini dibuat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya sebagai bentuk publikasi, edukasi, sekaligus napak tilas sejarah panjang lembaga.
“Yapenthom adalah sekolah SMP tertua di Kabupaten Sikka dan tertua kedua di Flores setelah Frateran Ndona. Yayasan ini dibangun pada 1 Mei 1947, sedangkan SMP pertama (Yapenthom 1) didirikan pada 1 Agustus 1949 oleh Raja Don Thomas Ximenes da Silva bersama para koleganya,” ujar Thomas Ricky.
Sejarah mencatat, berdirinya Yapenthom diprakarsai oleh Don Thomas pasca-Perang Dunia II demi memajukan rakyat Sikka. Sebelum Yapenthom berdiri, pilihan melanjutkan pendidikan sangat terbatas dan mahal. Pendirian sekolah ini menyelamatkan masa depan banyak generasi, tidak hanya dari Sikka, tetapi juga Flores Timur, Lembata, Ngada, Manggarai, hingga Kupang dan Sumba. Dari rahim Yapenthom, lahir tokoh-tokoh besar seperti mantan Bupati Sikka Paulus Moa dan Aleks Longginus.
Ketua Panitia HUT ke-79 Yapenthom, Vicky Da Gomez, mengulas dinamika sejarah Yapenthom yang sempat dihantam badai politik lokal dan persoalan pendanaan akibat penghentian retribusi kopra pada awal 1950-an. Namun, semangat pendiri tak pernah surut.
Vicky mengutip komitmen legendaris Raja Don Thomas saat menghadapi krisis pada 1953: