Malam jahanam yang begitu tenang. Kukis terbaring di rel kereta yang membentang. Matanya nyalang menapaki langit malam. Menghitung bintang satu persatu seperti membunuh waktu. Di sekelilingnya, hanya sunyi yang memanjang. Tak ada angin, tak ada suara binatang malam. Seperti dunia sengaja menahan napas menunggu kereta datang dan mengantarnya pergi. Batu-batu kecil di bawah tubuhnya dingin dan keras, menekan tulang punggungnya, mengingatkan bahwa ia masih di dunia ini.
Sebenarnya ia merasa kepalanya kosong, atau sebenarnya tidak benar-benar kosong. Kukis mencoba memikirkan banyak hal sambil berbaring, tapi makin lama ia mencoba, makin pergi semua itu darinya. Ia telah lama memilih tempat ini. Rel tua yang sepi di pinggiran kota, jarang dilalui siapapun kecuali kereta barang yang lewat seminggu sekali, selalu pada malam yang sama, jam yang nyaris bisa ditebak oleh orang yang terbiasa mendengar denyut kota dari kejauhan; dan semuanya adalah malam ini.. Kukis menemukan tempat ini dalam satu perjalanannya yang tak berniat—kala ia melarikan diri dari keramaian dan deru pikirannya sendiri. Sejak itu, ia tahu: inilah tempatnya.
Tak ada rumah, tak ada lampu jalan, hanya hamparan rerumputan liar dan rel yang seperti menyusuri dunia tanpa akhir. Sepi di sini bukan sekadar hening, tapi seperti perjanjian. Seperti kesepakatan diam antara dunia dan kematian. Ia suka itu—ketiadaan saksi. Ia tidak ingin diselamatkan oleh kebetulan, atau ditemukan oleh empati yang datang terlambat. Ia hanya ingin selesai, tenang, seperti kereta yang menutup hari. Ia menyimpan tempat ini di dalam pikirannya seperti seseorang menyimpan surat wasiat.
Baca juga: Diakon Rikard Diku, SVD: Menjawab Panggilan Kasih Hingga ke Ujung Dunia
Malam ini, semua terasa sudah tepat: langit bersih, jadwal kereta mendekat, dan pikirannya perlahan menjauh dari tubuh. Tidak ada marah, tidak ada sedih. Hanya sebuah keinginan untuk tidak lagi merasa apa-apa.
Bukan hanya tempat ini telah lama dipilih Kukis, tapi juga caranya. Ia pernah membayangkan tubuhnya menggantung, tapi membayangkan wajah orang yang menemukannya malah membuatnya ngeri. Ia pernah menimbang racun, pil tidur, bahkan laut yang jauh, tetapi semuanya terasa terlalu lambat, terlalu lembut, atau terlalu bergantung pada kemungkinan yang bisa gagal. Ia ingin sesuatu yang pasti, tak memberi ruang untuk ragu di detik terakhir. Rel kereta menawarkan itu—kepastian dan keheningan dalam satu hentakan besi.
Ia membayangkan tubuhnya lenyap tanpa drama macam-macam, hanya satu tabrakan yang sempurna dan selesai. Tak ada pesan terakhir, tak ada tangisan yang harus ia dengar. Ia tidak ingin dikenang sebagai cerita menyedihkan, hanya sebagai seseorang yang akhirnya berhenti. Pertimbangan itu bukan datang dalam satu malam. Ia menyimpannya seperti orang menyimpan rahasia dalam laci, sesekali dibuka, dipelototi, lalu ditutup kembali. Tapi malam ini, ia tidak lagi menutupnya. Ia tidak ingin menyakiti siapa-siapa, ia hanya ingin diam. Dunia telah terlalu riuh, dan Kukis hanya ingin keluar dari keramaian dengan cara paling sunyi yang ia tahu.
Baca juga: Kumpulan Puisi Aprianus Gregorian Bahtera
Waktu makin dekat menuju tengah malam. Sebentar lagi kereta barang itu datang. Kukis menutup mata. Dalam benaknya ia sudah membayangkan bagaimana kelak tubuhnya akan terlempar saat besi bertemu daging, bagaimana suara nyaring dari roda yang melindasnya akan terdengar di udara. Akan ada cahaya terang yang muncul di kejauhan, suara gemuruh mendekat, lalu semuanya akan selesai dalam satu kedipan mata.
