Pada Sebuah Rel Kereta Tak Bertuan

Tak ada rumah, tak ada lampu jalan, hanya hamparan rerumputan liar dan rel yang seperti menyusuri dunia tanpa akhir. Sepi di sini bukan sekadar hening, tapi seperti perjanjian. Seperti kesepakatan diam antara dunia dan kematian. Ia suka itu—ketiadaan saksi.
Hendra Purnama. Storyteller yang telah berkarya sejak 2004, dengan pengalaman panjang di dunia fiksi, nonfiksi, penyutradaraan serta penulisan skenario. Filmnya yang berjudul Hese Usik Hese Malik menjadi nominasi Best Script Film Festival Film Pendek di TVRI Jawa Barat 2025; skenarionya yang berjudul Foto yang Hilang menjadi finalis lomba skenario film pendek Narasi Kepahlawanan 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan. Saat ini bekerja sebagai scriptwriter di The Panasdalam Pictures dan managing editor The Panasdalam Publishing

Kukis menggeleng, tak percaya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Tempat itu senyap, terlalu jauh dari hiruk kota, terlalu cocok dengan kesunyian yang telah lama bersarang di dadanya. Rel itu pun bukan sekadar jalan besi, melainkan ruang tenang yang mencerminkan kehampaan hidupnya. Kukis tak pernah berniat membagi kesunyian itu. Ia bahkan merasa, jika dunia punya satu titik untuknya menghilang, maka di sinilah adanya. Namun kini, seseorang telah merebutnya!

Dengan amarah yang tipis, perlahan Kukis melangkah keluar dari bayang pohon, tubuhnya bergerak hati-hati seperti bayangan yang mengendap di antara rerumputan. Setiap ranting yang patah di bawah telapak kakinya terasa seperti denting di dalam dada. Ia mendekat, menahan napas, membiarkan malam tetap menggigil dalam senyap. Sosok itu tak bergerak. Cahaya senter yang tergeletak begitu saja di tanah menyinari sebagian wajahnya yang terpejam, tenang, nyaris damai. Lelaki itu tidak sedang memandangi langit melainkan tenggelam dalam keheningan sendiri. Kukis berdiri beberapa langkah darinya, menatap dalam diam. Orang itu tak menyadari apa pun—bahkan kehadiran Kukis—seolah dunia telah ditinggalkannya lebih dulu.

“Hei! Ngapain di sini!”

Suaranya terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan, dengan nada yang nyaris pecah oleh sesuatu yang tak bisa ia kendalikan. Tekanan emosi dalam suaranya mengalir tanpa aba-aba, lahir dari campuran keterkejutan, kemarahan, dan sesuatu yang samar tapi dalam.

Lelaki itu membuka mata perlahan. Wajahnya tampak terkejut, tapi tidak panik. Mereka bertatapan—sekejap yang terasa panjang.

“Aku mau bunuh diri”

Dia menjawab dengan suara pelan, letih, seolah sudah menempuh perjalanan panjang sebelum sampai pada kalimat itu.

Halaman: 12345678910

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru