Selesai, sangat selesai. Seperti yang ia dambakan sejak lama.
Namun ternyata semua tak seindah angan-angan. Samar ia mendengar suara langkah kaki yang mengusik keheningan. Perlahan tapi pasti, mendekat. Kukis menahan napas, tubuhnya menegang. Ia membuka mata dan melihat sesosok tubuh membawa senter datang menghampirinya. Untungnya, sosok itu masih agak jauh. Kukis segera berguling dan merayap di sela semak-semak.
Kukis merangkak menjauh, membiarkan lutut dan telapak tangannya terluka oleh kerikil dan ranting. Setiap gerakannya ditelan gelap, tapi ketakutan menjelma cahaya panas di punggungnya. Ia tahu tak boleh berhenti. Di balik sebuah pohon tua, ia akhirnya bersandar, membiarkan tubuhnya melebur dalam bayang-bayang. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya sendiri tak ingin mengkhianatinya dengan suara.
Dari sela batang dan daun, ia mengintip, berjaga. Sosok dengan senter itu berdiri tepat di tempat tadi ia terbaring. Sejenak, orang itu diam, dan Kukis merasa seolah malam membeku kembali. Ia tak tahu siapa yang berdiri di sana, atau apa yang dicari. Yang ia tahu, sunyi telah retak—dan malam tak lagi memihaknya. Sekilas cahaya senter menerangi wajah orang itu, dan Kukis melihat seorang pria berjaket hitam yang wajahnya tampak sangat letih.
Kukis tetap sembunyi, dia yakin cepat atau lambat orang itu akan pergi. bagaimanapun juga tak akan ada yang kuat berdiri lama-lama di tengah cuaca dingin begini. Kukis menduga orang itu penjaga malam yang tadi sempat melihatnya berbaring di sana. Sebab meskipun tempat itu tampak sepi, bukan berarti tak ada kemungkinan manusia lewat dan melihat ada sosok yang berbaring di rel kereta api.
Namun makin lama Kukis menanti, sosok itu tak juga pergi. Malah tanpa suara, perlahan-lahan, ia menurunkan tubuhnya. Kukis menahan napas tegang, mengira orang itu hendak mencari jejaknya. Namun ternyata tidak—orang itu justru merebahkan tubuhnya di tempat yang baru saja Kukis tinggalkan. Kepala orang itu bersandar di bantalan besi, mata menghadap langit malam yang sama. Gerakannya tenang, nyaris seperti ritual. Tidak ada ragu, tidak ada gelisah. Hanya keheningan baru yang kini mengisi ruang yang tadi milik Kukis seorang.
Dari balik pohon, Kukis membeku. Dunia seperti membalikkan cermin di hadapannya. Sosok itu seperti bayangannya sendiri beberapa menit lalu. Sejenak Kukis merasa bingung. Ia merasa terintip, tergantikan. Namun sekejap kemudian ada rasa yang aneh, seperti marah—atau kecewa, karena tempat yang ia simpan seperti rahasia kini menjadi milik orang lain. Ada rasa terusik, seperti rahasianya dibuka paksa. Lalu perlahan datang rasa marah karena tempat yang ia anggap suci, tempat yang ia pilih dengan pertimbangan yang panjang, kini dirambah seseorang. Kukis menengadah menatap langit malam. Segalanya telah berubah. Kukis, yang datang untuk pergi, kini seperti dipaksa menjadi saksi atas dirinya sendiri.
