Babul menatapnya dengan dingin. Sekilas matanya seperti berkaca, tapi wajahnya tetap keras. “Mungkin memang harus begitu,” katanya pelan, namun tiap katanya seperti hantaman. “Supaya aku dianggap penting. Lagipula, kenapa aku harus memikirkan urusan orang lain, padahal mereka juga tidak memikirkan urusanku?”
Babul maju selangkah. Mendekat, cukup dekat untuk membuat Kukis harus mundur. “Seperti kamu sekarang! Kamu sama sekali tidak melarangku bunuh diri kan?” Suaranya Babul semakin naik. “Kamu malah sibuk memuji-muji tempat busuk ini! Semua demi kepentinganmu sendiri! Iya kan? Tidakkah kamu juga egois?”
Kukis terdiam. Dia tak bisa menjawab satupun tuduhan Babul karena memang ia merasa itu semua benar. Sambil mendengus kesal, Babul melangkah pergi, kakinya menebas semak-semak dengan emosi yang masih terasa. Kukis memandangi tubuh Babul yang makin lama makin larut dalam gelap.
“Heh! Kamu mau ke mana?!” serunya Kukis, tak tahan membiarkan keheningan menelan semuanya.
Suara Babul terdengar dari kejauhan. “Cari nasi goreng!”
Kukis mengerutkan kening, bingung, lalu teriak balik, “Kalau memang kamu mau mati, jangan makan!”
“Aku kan tidak jadi mati! Aku masih hidup! Orang hidup pasti lapar!” Jawaban Babul terdengar seperti gema yang diseret angin malam.
