Pada Sebuah Rel Kereta Tak Bertuan

Tak ada rumah, tak ada lampu jalan, hanya hamparan rerumputan liar dan rel yang seperti menyusuri dunia tanpa akhir. Sepi di sini bukan sekadar hening, tapi seperti perjanjian. Seperti kesepakatan diam antara dunia dan kematian. Ia suka itu—ketiadaan saksi.
Hendra Purnama. Storyteller yang telah berkarya sejak 2004, dengan pengalaman panjang di dunia fiksi, nonfiksi, penyutradaraan serta penulisan skenario. Filmnya yang berjudul Hese Usik Hese Malik menjadi nominasi Best Script Film Festival Film Pendek di TVRI Jawa Barat 2025; skenarionya yang berjudul Foto yang Hilang menjadi finalis lomba skenario film pendek Narasi Kepahlawanan 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan. Saat ini bekerja sebagai scriptwriter di The Panasdalam Pictures dan managing editor The Panasdalam Publishing

Babul menatapnya dengan dingin. Sekilas matanya seperti berkaca, tapi wajahnya tetap keras. “Mungkin memang harus begitu,” katanya pelan, namun tiap katanya seperti hantaman. “Supaya aku dianggap penting. Lagipula, kenapa aku harus memikirkan urusan orang lain, padahal mereka juga tidak memikirkan urusanku?”

Babul maju selangkah. Mendekat, cukup dekat untuk membuat Kukis harus mundur. “Seperti kamu sekarang! Kamu sama sekali tidak melarangku bunuh diri kan?” Suaranya Babul semakin naik. “Kamu malah sibuk memuji-muji tempat busuk ini! Semua demi kepentinganmu sendiri! Iya kan? Tidakkah kamu juga egois?”

Kukis terdiam. Dia tak bisa menjawab satupun tuduhan Babul karena memang ia merasa itu semua benar. Sambil mendengus kesal, Babul melangkah pergi, kakinya menebas semak-semak dengan emosi yang masih terasa. Kukis memandangi tubuh Babul yang makin lama makin larut dalam gelap.

“Heh! Kamu mau ke mana?!” serunya Kukis, tak tahan membiarkan keheningan menelan semuanya.

Suara Babul terdengar dari kejauhan. “Cari nasi goreng!”

Kukis mengerutkan kening, bingung, lalu teriak balik, “Kalau memang kamu mau mati, jangan makan!”

“Aku kan tidak jadi mati! Aku masih hidup! Orang hidup pasti lapar!” Jawaban Babul terdengar seperti gema yang diseret angin malam.

Halaman: 12345678910

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru