Sunyi kembali menggantung, tapi kini tegang seperti senar yang ditarik terlalu kencang.
Lelaki itu akhirnya duduk, menyeka debu dari bajunya seolah sadar betapa canggungnya ia terlihat. Kukis tetap berdiri di tempat, tak berkata apa-apa, membiarkan ketegangan menggantung di antara mereka.
Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Hanya gemuruh kecil dari kejauhan, suara malam yang kembali datang perlahan.
“Aku kira tempat ini kosong,” gumam lelaki itu, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap rel beberapa detik, lalu berdiri. Sorot matanya tak lagi marah, hanya jenuh—seperti seseorang yang sudah terlalu sering menemukan gangguan bahkan di momen paling sepi dalam hidupnya.
Ia lalu menatap Kukis, mengajaknya bersalaman.
“Namaku Babul, satu saat nanti mungkin kamu akan menemukan namaku di koran, di sebuah kolom berita kecil yang tak ada artinya. Buatku tak masalah, karena berarti saat itu aku sudah berhasil menjalankan mimpiku. Mati atas kehendak sendiri.”
Kukis balas menyalami Babul. “Kalau kamu memang ingin sekali masuk koran, cobalah buat sensasi dulu. Misalnya naik ke atas menara sutet, teriak-teriak sampai wartawan datang, sampai warga yang sok penting dan sok peduli datang memintamu turun, lalu lompatlah ke bawah.”
