Pada Sebuah Rel Kereta Tak Bertuan

Tak ada rumah, tak ada lampu jalan, hanya hamparan rerumputan liar dan rel yang seperti menyusuri dunia tanpa akhir. Sepi di sini bukan sekadar hening, tapi seperti perjanjian. Seperti kesepakatan diam antara dunia dan kematian. Ia suka itu—ketiadaan saksi.
Hendra Purnama. Storyteller yang telah berkarya sejak 2004, dengan pengalaman panjang di dunia fiksi, nonfiksi, penyutradaraan serta penulisan skenario. Filmnya yang berjudul Hese Usik Hese Malik menjadi nominasi Best Script Film Festival Film Pendek di TVRI Jawa Barat 2025; skenarionya yang berjudul Foto yang Hilang menjadi finalis lomba skenario film pendek Narasi Kepahlawanan 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan. Saat ini bekerja sebagai scriptwriter di The Panasdalam Pictures dan managing editor The Panasdalam Publishing

Sunyi kembali menggantung, tapi kini tegang seperti senar yang ditarik terlalu kencang.

Lelaki itu akhirnya duduk, menyeka debu dari bajunya seolah sadar betapa canggungnya ia terlihat. Kukis tetap berdiri di tempat, tak berkata apa-apa, membiarkan ketegangan menggantung di antara mereka.

Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak. Hanya gemuruh kecil dari kejauhan, suara malam yang kembali datang perlahan.

“Aku kira tempat ini kosong,” gumam lelaki itu, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap rel beberapa detik, lalu berdiri. Sorot matanya tak lagi marah, hanya jenuh—seperti seseorang yang sudah terlalu sering menemukan gangguan bahkan di momen paling sepi dalam hidupnya.

Ia lalu menatap Kukis, mengajaknya bersalaman.

“Namaku Babul, satu saat nanti mungkin kamu akan menemukan namaku di koran, di sebuah kolom berita kecil yang tak ada artinya. Buatku tak masalah, karena berarti saat itu aku sudah berhasil menjalankan mimpiku. Mati atas kehendak sendiri.”

Kukis balas menyalami Babul. “Kalau kamu memang ingin sekali masuk koran, cobalah buat sensasi dulu. Misalnya naik ke atas menara sutet, teriak-teriak sampai wartawan datang, sampai warga yang sok penting dan sok peduli datang memintamu turun, lalu lompatlah ke bawah.”

Halaman: 12345678910

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru