Kini hanya Kukis yang tersisa. Ia menatap rel yang kembali sunyi, sama persis seperti saat pertama datang. Dingin malam kembali menempel di kulit. Angin mulai berjalan perlahan. Langit di atasnya masih sama. Rel di bawahnya pun tak berubah.
Kukis menatap titik tempat ia semula berbaring, tempat di mana tubuhnya hampir menyatu dengan batu-batu, dengan kemungkinan akhir. Tapi kini tempat itu terasa asing. Seolah tidak lagi miliknya. Ada jejak tubuh tak kasat mata yang tertinggal di sana, jejak Babul. Ia melangkah perlahan mendekat, namun langkahnya terhenti beberapa jengkal sebelum rel. Seperti ada dinding tak terlihat yang menghalanginya
Kukis mendongak. Langit masih menatapnya dengan cahaya bintang yang dingin. Sunyi masih tinggal di sekelilingnya, tapi tidak lagi terasa akrab. Kini sunyi itu justru memantulkan suara-suara dari dalam dirinya sendiri.
Apakah aku sungguh ingin mati?9
Angin bersiur, untuk pertama kalinya Kukis merasakan kedinginan. Perutnya pun keroncongan seperti orang yang masih hidup. Sejenak kemudian Kukis menghambur ke arah perginya Babul. Ia mendadak juga ingin makan nasi goreng. Tak penting lagi baginya apakah kereta barang itu jadi lewat di sana atau tidak.
Bandung, April 2025
