“Kamu suka tempat ini itu urusanmu,” kata Babul sambil menunjuk ke tanah. “Aku mau mati di sini, itu urusanku. Kenapa dicampur-campur? Kamu pikir gara-gara kamu ada di sini, terus kamu bisa mengklaim tempat ini? Tadi kamu tanya aku sedang apa, aku sudah jawab! Kamu sendiri sedang apa di sini? “Jangan-jangan kamu mau bunuh diri juga? Iya kan!?”
“Lho! Kamu tidak bisa pakai logika terbalik! Jangan karena kamu ke sini mau bunuh diri, lantas kamu menuding semua orang yang ada di sini juga mau bunuh diri!”
“Kalau tidak mau bunuh diri, ya pergilah! Biar aku yang bunuh diri dengan tenang di sini!”
“Heh!” seru Kukis, emosinya melonjak. “Memang kamu kira ini tempat khusus bunuh diri?” Ia melangkah maju, menunjuk ke rel di belakang Babul. “Memang kamu kira di depan sana ada plang ‘TEMPAT BUNUH DIRI’ begitu?! “Kamu ke sini mau bunuh diri, aku ke sini mau minum tidur, mau salto, mau baca buku, ya terserah aku juga!” Kukis menengadah, menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Ini tempat yang selalu aku tuju kalau ingin duduk tenang, melihat langit, sembunyi di balik alang-alang, dan melarikan diri dari situasi di luar sana.” Suaranya mulai merendah.. “Kadang aku membawa kopi ke sini, meminumnya sendiri. Aku tidak ingin semua itu rusak gara-gara tempat ini dikenal sebagai tempat orang bunuh diri dengan berbaring di rel kereta api.”
Kukis berhenti bicara karena kehabisan napas. Ia sadar semua yang diucapkannya barusan adalah karangan yang tiba-tiba lahir begitu saja.
Babul menghela napas. Ia melipat tangannya di dada. Menatap Kukis tajam. “Terus urusanku apa dengan semua ocehanmu itu?”
“Artinya, aku juga punya hak menggunakan tempat ini. Tidakkah kamu sempat berpikir kalau kelakuanmu itu akan merugikan orang lain? Kamu merusak dunia orang lain! Merusak kehidupan orang lain! Kamu pikir, nanti kalau badanmu berantakan karena roda kereta, orang-orang yang mengumpulkan serpihan badanmu itu dibayar, hah? Tidak! Mereka kerja sukarela, mengumpulkan akibat keegoisanmu sendiri!”
