PerspektifNusantara.com_Pembaca yang budiman.
Kumpulan puisi ini merupakan permenungan penulis pada sela-sela jam belajar. Ketika jenuh dan lelah menyatu dalam satu kemalasan yang hakiki.
Puisi ini ditulis dalam dinamika batin yang tidak menentu.
Selain bosan dan malas juga antara ingin pulang atau tetap bertahan dalam keadaan.
Selamat membaca.
Aroma Tubuh di Cangkir
Mama : Anak e. Sudahkah kau terima kopi yang saban hari mama titip?
Anak : Sudah mama. Sudah terima dalam keadaan lengkap. Lengkap dengan aroma tubuh dan sepersekian jiwa mama.
Mama : Itulah aroma yang kau rindukan, bukan?
Anak : Hmmmm Mama.
Dengan apa mama tambahkan ke dalam kopi ini sehingga ruangku beraromakan tubuhmu?
Mama :Kopi yang kau terima kali ini tidak seperti biasanya Nak. Aromanya pun barangkali belum ingin kau rasakan. Sekarang. Ibu menggorengnya di suatu senja. Tanpa lembayung. Cahaya yang menerangi pun tidak lagi dari senja yang kau dambakan melainkan sisa dari bias mata mama yang belum sempat habis karena air mata. Untunglah api yang mama sulut bukan dari amarah karena rindu yang meletup. Hanya saja, kopi itu tak lagi murni Nak. Mama sengaja menambahkannya dengan sedikit air mata yang entah kenapa. Juga sedikit peluh dari kening yang terlalu memikirkanmu. Mama sengaja tidak memisahkannya sewaktu kemas. Biar dari aromanya kau bisa memahami bagaimana cara ibu ingin memelukmu tanpa pertemuan. Kau ingin mendengar degup jantung yang mengharapkanmu pulang ? Teguklah perlahan Nak. Jangan tanya mengapa jika kau tak ingin merasakan hal yang sama. Di akhir kopimu dan kalimat ini, ada sesuatu yang dirahasiakan seperti kopi kepada gelas. Sekali lagi jangan tanya mengapa karena luka selalu berawal dari jawaban atasnya. Mama ingin kau merasakanya dengan harmoni yang santun, diam, tanpa harus bertanya-tanya.
Anak : Kopi.
Secangkir beraroma tubuh.
Enigma Wajah
Rautnya masih sama, kusam
Seperti gelandangan di pagi buta
Ada lubang pada pori-pori kulitnya, mengangah
Sedang tepiannya bertumbuh kuduk liar
Yang durinya siap menerkam jemari-jemari polos
Padahal rupiah berkumandang riah
Pada sekat-sekat sakral
Menuntut segera perjamuan kata
Ada patimura yang siap menumpas dedurian masa
Ada sunggingan ceria proklamator kepada murahnya viena
Terpaksa sang ibu memeras asi dan air mata
Agar wanginya menutupi bauh dari laci meja
Bibirnya masih saja kering
Seperti tak pernah meneguk setetes embun
Atau mungkin telah vakum dari dunia asmara, tanpa ciuman
Entahlah
Padahal tanah di dekat gubuk kakek tua itu
Tetap saja berlumpur mesti bulan menunjuk Agustus pada putaran kalender
Terpaksa dedaunan menghirup sejuk lumpuran tanah
Perlahan menumpahkan embun pada jalanan kering
Sang ayah pun relah
Mencabik raut dengan pisau terik
Biar darah dan peluh tertumpah keluar
Dijadikan perjamuan derita anak-anak terlantar
Mengelabui riahnya meja perjamuan anggur
Pasir
Pada suatu pagi
Dekat pantai
Mengukirmu namamu lebih sulit
Dari pada ombak menghapusnya
Menulis sajakmu lebih sulit
Daripada menghapus jejakmu.
Demikian kita hanyalah pasir
Yang berharap ombak terlambat pulang.
