Catatan Lepas: Seandainya Pemimpinku Urus Bisnis “Makan Gratis” Saya Kenyang atau Dia Makin Lapar?

Konsep “makan gratis” dalam politik sering kali bukan sekadar soal pangan tetapi juga alat legitimasi kekuasaan. Michel Foucault menyebut bahwa kekuasaan bekerja melalui mekanisme halus termasuk pengaturan tubuh dan kebutuhan dasar manusia.
ILUSTRASI - Pemimpin urus bisnis makan gratis.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Di dalam filsafat politik klasik, kekuasaan selalu dipahami sebagai amanah bukan sekadar hak melainkan beban moral untuk mengurus kepentingan bersama.

Namun, bagaimana jika seandainya seorang pemimpin justru merangkap sebagai pengelola bisnis “makan gratis”?

Sebuah ironi lahir: apakah yang kenyang itu saya (rakyat) atau justru perut kekuasaan itu sendiri?

Baca juga: Pemimpin Seremonial dan Konten Kreator: Antara Panggung Citra dan Tanggung Jawab Etis

Dalam tradisi Thomas Aquinas, tujuan utama kekuasaan adalah bonum commune atau kebaikan bersama.

Pemimpin tidak boleh menjadikan jabatan sebagai alat untuk memperkaya diri atau kelompoknya.

Ketika seorang pemimpin mengurus bisnis makan gratis, terlebih jika berkaitan dengan kebijakan publik maka terjadi pergeseran orientasi: dari pelayanan menjadi perhitungan.

Baca juga: Dari Kelahiran Biologis ke Kelahiran Sosial: Pendidikan sebagai Jalan Menjadi Manusia

Program yang seharusnya menjawab kebutuhan rakyat bisa berubah menjadi instrumen pencitraan atau bahkan ladang keuntungan terselubung.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru