Perguruan tinggi berperan penting dalam mereduksi relativisme nilai dalam ruang virtual dengan menciptakan mahasiswa sebagai agen perubahan yang kritis dalam mengevaluasi suatu bias kognitif. Berpikir kritis dalam menyeimbangi relativisme ruang virtual melibatkan refleksi kritis-filosofis dalam memecahkan masalah yang terbentuk dengan mengombinasikan beberapa kebiasaan atau habit yakni sebagai berikut:
- Keingintahuan
Rasa ingin tahu seseorang akan menuntun pencarian makna maupun nilai yang lebih dalam yang akan mendatangkan pengetahuan dan pemahaman yang mempuni. Individu dengan rasa ingin tahu yang tinggi akan mendalami secara lebih mendalam dan komprehensif suatu topik atau persoalan sehingga merangsang pertanyaan lebih lanjut untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijustifikasi.
- Kerendahan hati
Kerendahan hati mengisiyaratkan bahwa pemahaman tentang sesuatu bersifat terbatas. Kerendahan hati berkaitan erat dengan rasa ingin tahu yakni menyadari kesenjangan antara keterbatasan dan kesenjangan dalam pengetahuan.
- Skeptisisme
Skeptisisme merupakan suatu kecurigaan dengan melibatkan keragu-raguan (dubium) terhadap suatu hal. Dalam ruang virtual skeptisime manjadi penting agar relativisme dapat direduksi.
- Rasionalitas atau logika Kemampuan logika formal sangat diperlukan bagi para pemikir kritis
untuk mewaspadai argumen-argumen yang buruk atau bersifat persuasif dengan merelatifisir fakta objektif menjadi subjektif demi manfaat yang bersifat utilis. Rasionalitas memungkikan untuk mengidentifikasi argumentargumen yang baik dalam membantu memahami implikasi lebih lanjut dari argument tersebut. Ruang virtual dengan bias kognitif membutuhkan usaha perguruan tinggi dalam menciptakan kaum intelektual yang dapat berpikir secara logis dengan logika induktif maupun deduktif dalam melihat relativisme ruang virtual.
