Lebih Baik Main Bola Daripada Main Perasaan Orang

"Lahir di era baru sekarang ada di Maumere baru asalkan keduanya jangan ERABARU. Menurut mereka di belakang gawang, ini berjuang untuk kepentingan umum, tapi apakah eforia malam ini tidak korupsi mulut anak kecil yang sedang meminta nasi? Dipandang sebagai pembangun, tapi bangun pagi saja masih butuh lonceng".
Martin Wukak, Penulis monolog "lebih baik main bola daripada main perasaan orang" adalah seorang mahasiswa filsafat (IFTK) Ledalero. Selain menekuni study Filsafat, pria kelahiran Lembata ini juga giat menulis dan menjadi sustradara dalam komunitas Aletheia Ledalero.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COMSahabat PerspektifNusantara yang budiman. Berikut ini adalah sebuah naskah monolog yang ditulis oleh salah satu mahasiswa IFTK Ledalero dan sudah dibawakan dalam acara pembukaan turnamen futsal Christian Cup I, turnamen yang diselnggarakan oleh salah satu anggota DPRD Kabupaten Sikka Fraksi Demokrat pada, Senin, 11 Mei 2026.

 

(Sound lagu piala dunia dibunyikan. Aktor lari dari tenda menuju panggung sambil menendang-nendang bola. Di kepalanya terikat bendera partai Demokrat)

Baca juga: KETIKA ROH KUDUS MENJANGKAU LERENG-LERENG SUNYI (Refleksi Pastoral atas Perayaan Pentakosta di Stasi Golo Wunis dan Watu Paci)

 

Aku tak mau pulang. Aku bukan anak kecil lagi yang suka minta-minta. Minta uang, minta dipuji, minta suara, minta dibangunin dari tidur. Fix. Aku tak mau pulang. Umurku sekarang setengah lebih dari bapak. Aku sudah cukup muda, cukup untuk dewasa. Kalau aku pulang, aku mau buat apa di rumah ? Palingan disuru bapak membeli moke. Mabuk nanti aku diseret polisi karna saksi. Atau…. Ibu yang suka komat-kamit, sana-sini. Begitu-begini. Apalagi ditambah dengan kelakuan adik 7 tahun yang suka coret-coret baju saat pulang sekolah. Saat ditanya, kenapa? ia malah menjawab, uang hasil judol bapak dipakai   ibu buat pajak.  Lucu kan!!! pasti lucu. Kalau tidak lucu barangkali dari kalian malam ini ada yang pernah begitu. Lebih buruk lagi, adik perempuanku 14 tahun yang sibuk mencari gitarnya. Katanya hilang sampai sekarang, hari ini, malam ini bahkan detik, menit jam ini.

 

Baca juga: Di Tengah Krisis Zaman, Paul Tukan Berani Tinggalkan Kenyamanan Demi Tuhan”

****

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru