PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Stefanus Sumandi, S.Fil., menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara Indonesia, tetapi juga merupakan ideologi yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan global, termasuk rivalitas politik dan ideologi yang saat ini kembali mewarnai panggung dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Stefanus Sumandi dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”
Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kondisi geopolitik dunia saat ini. Ia menilai dunia sedang menghadapi situasi yang menyerupai polarisasi pada masa lalu ketika kekuatan-kekuatan besar dunia terbelah ke dalam dua kutub yang saling berhadapan.
Baca juga: Menanti Uluran Tangan di Ujung Senja: Maria Fatima Bertahan di Rumah Bambu yang Hampir Roboh
“Hari ini kita mengenang Hari Lahir Pancasila melalui berbagai perayaan dengan tema ‘Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia’. Saya pikir tema ini sangat relevan dengan kondisi politik dunia saat ini yang diwarnai rivalitas antara blok barat dan blok timur. Polarisasi yang terjadi sekarang memiliki kemiripan dengan kondisi geopolitik pada abad lalu,” ujar Stefanus.
Ia menjelaskan bahwa ketika para pendiri bangsa merumuskan dasar negara, dunia juga sedang berada dalam pertarungan ideologi besar. Di satu sisi terdapat ideologi liberal-kapitalis yang berkembang di negara-negara Barat, sementara di sisi lain muncul ideologi sosialis-komunis yang menjadi landasan negara-negara Timur.
Dalam situasi tersebut, Bung Karno bersama para pendiri bangsa memilih jalan yang berbeda. Indonesia tidak berpihak pada salah satu kutub ideologi dunia, melainkan menggali nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia untuk melahirkan sebuah dasar negara yang mampu mempersatukan bangsa yang majemuk.
“Jika kita membaca pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI, sangat jelas bahwa Pancasila merupakan corak khas bangsa Indonesia. Pancasila tidak diadopsi dari bangsa lain, tetapi digali dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia dan memiliki sifat universal yang dapat diterima oleh masyarakat dunia,” katanya.
