Stefanus menilai, kekuatan utama Pancasila terletak pada kemampuannya menjadi titik temu berbagai perbedaan. Di tengah ketegangan dan pertarungan kepentingan global, Pancasila menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, persatuan, demokrasi, dan kesejahteraan sosial yang mampu menjadi fondasi perdamaian.
Ia bahkan mengingatkan kembali pidato bersejarah Presiden Soekarno di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 di New York yang berjudul “To Build The World Anew” atau “Membangun Dunia Kembali”. Dalam pidato tersebut, Bung Karno memperkenalkan Pancasila sebagai alternatif ideologi dunia di tengah ketegangan Perang Dingin.
“Hemat saya, Bung Karno ingin menegaskan bahwa Pancasila adalah sintesis dari berbagai ketegangan ideologi dunia. Pancasila hadir sebagai jalan tengah yang dibangun dari kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam masyarakat dunia dan dirumuskan dalam lima sila,” jelasnya.
Meski demikian, Stefanus mengingatkan bahwa Pancasila tidak akan memiliki makna apabila hanya berhenti sebagai konsep atau slogan semata. Menurutnya, implementasi nilai-nilai Pancasila membutuhkan perjuangan bersama dari seluruh elemen bangsa.
“Membangun bangsa bukan hanya soal memiliki dasar negara yang kuat. Pelaksanaannya membutuhkan perjuangan nyata. Karena itu, tanggung jawab menghidupkan Pancasila bukan hanya berada di pundak para pemegang kekuasaan, tetapi juga seluruh warga negara,” tegasnya.
Ia menilai bahwa salah satu cara paling efektif untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila adalah melalui pendidikan yang berkualitas. Mengutip pemikiran filsuf politik Will Kymlicka, Stefanus mengatakan bahwa sekolah merupakan ruang ideal untuk menumbuhkan kebajikan sipil dan membentuk karakter warga negara yang baik.
Karena itu, ia mendorong pemerintah agar memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sektor pendidikan melalui peningkatan anggaran dan kualitas layanan pendidikan, baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta.
