Di hari Sabtu, tenda pesta sudah jadi, soundsistem sudah ok. Namun hal diluar dugaan terjadi. Hujan deras selama dua hari sejak Sabtu dan Minggu. Akibatnya undangan tidak datang sesuai harapan. Masakan yang telah disediakan ternyata hanya dimakan oleh tuan rumah, keluarga, orang dapur, dan kru soundsistem. Alhasil, amlop undangan yang diharapkan tidak seberapa. Wajah bahagia berubah menjadi sedih.
Bagaimana janji bayar uang babi 30 juta dan bagaimana mau cicil utang 75 juta? Di rumah bapa dan mama mulai termenung, sesekali lihat anaknya yang sambut baru. Bapa dan mama mulai lihat anak, sambil marah-marah berkata “ini gara-gara kau punya sambut baru”.
Aksi Pendidikan
Sambut baru adalah sakramen ekaristi. Sifatnya pribadi antara anak dengan Tuhan. Sambut baru tidak sama dengan sakramen perkawinan yang bersifat sosial antara laki dan perempuan saling mengikat sumpah setia.
Dalam pesta perkawinan, tuan pesta memang harus buat perayaan yang meriah, selain sebagai ungkapan syukur karena dua insan telah menyatu dalam janji perkawinan tetapi juga sekaligus mengumumkan kepada dunia bahwa Nong Ganteng dan Nona Syantik adalah resmi pasangan suami isteri.
Kedua sakramen ini berbeda, karenanya, perayaan sambut baru tidak perlu menyaingi pesta pernikahan. Perayaan sambut baru perlu memperhatikan nilai-nilai pendidikan bagi anak.
Apa itu nilai-nilai pendidikan bagi anak? Sebagai contoh, ada orang tua yang anaknya sambut baru, mereka tidak merayakan pesta sambut baru tetapi anggaran pesta digunakan untuk membeli beras sekian ton lalu beras tersebut disumbang ke panti asuhan yang membutuhkan sambil meminta agar komunitas panti asuhan mendoakan agar anak sambut baru ini sehat-sehat selalu dan tercapai cita-citanya.
Pengalaman ini perlahan menanamkan sikap keberpihakan kepada orang-orang lemah. Kelak ketika dewasa dan menjadi pemimpin masyarakat, anak ini akan memperhatikan orang-orang kecil karena dasarnya telah ditanamkan orangtua.
