PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Fenomena ruang virtual yang dialami manusia kini dan sini ibaratkan dua sisi mata uang yang di satu sisi membawa dampak positif, dan di sisi lain membawa dampak negatif bagi sosialitas manusia. Berkaitan dengan realitas kemerosotan moralitas sosial dalam ruang virtual tersebut, artikel ini mencoba menguraikan dampak dari etika berbahasa yang semakin diabaikan, baik secara lisan maupun tulisan khususnya di kalangan mahasiswa. Selain itu juga, kurangnya kepekaan dalam jagat maya imersif menimbulkan maraknya ujaran kebencian, penyebaran hoaks, tindakan perundungan, pencemaran nama baik yang berakibat pada disintegrasi sosial. Selamat membaca!
Pendahuluan
Dewasa ini, manusia telah memasuki babak baru dalam peradaban modern dengan ruang virtual yang semakin terintegrasi. Meskipun ruang virtual yang semakin terintegrasi menjamin fleksibilitas, tetapi ruang virtual juga dapat mengancam integritas akademik, keamanan privat, dan mentalitas mahasiswa. Kemunculan ruang virtual dengan smartphone yang menjadi tuan atas eksistensi dan interaksi sosial adalah sebuah fenomena baru yang tercakup dalam suatu sistem yang dikenal denga ITC (Information and Communication Technologies).
Baca juga: Politik Keheningan dalam Film Pesta Babi dan Krisis Ruang Bicara di Era Digital
Sebagai proyek besar kemajuan modern, ITC mencakup berbagai bentuk perkembangan yakni: bangkitnya teknologi-teknologi yang terkait dengan big data, jejaring interkoneksi, algoritma, nanoteknologi, bioteknologi, sains kognitif, artificial intelligence, virtual reality, augmented reality, komputasi kuantum, dst (Hardiman, 2021).
Dalam ruang virtual dengan ITC sebagai kemajuan terbesar budaya manusia, seringkali otonomi moral menjadi suatu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian karena kemampuan individu dalam membuat keputusan etis mandiri tanpa campur tangan eksternal telah mengalami kemerosotan yang juga diperburuk dengan munculnya fenomena yang dikenal dengan “era post-truth”.
