Di Tengah Krisis Zaman, Paul Tukan Berani Tinggalkan Kenyamanan Demi Tuhan”

Tidak sedikit orang mempertanyakan pilihannya. Ada yang bertanya dengan nada penasaran, tetapi ada pula yang menyampaikan keraguan dengan nada sinis. Sebagian menganggap hidup religius tidak lagi relevan di zaman modern. Ada yang melihat pilihan itu sebagai jalan penuh penderitaan tanpa jaminan masa depan. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam meremehkan perjuangan mereka yang memilih hidup membiara.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Di tengah dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian, pilihan hidup religius sering dianggap sebagai keputusan yang tidak masuk akal. Banyak orang muda berlomba mengejar pekerjaan mapan, penghasilan besar, popularitas, dan kehidupan yang nyaman. Masa depan diukur dari jabatan, rumah mewah, kendaraan mahal, atau seberapa cepat seseorang berhasil menaklukkan kerasnya persaingan hidup modern. Namun, di tengah arus besar itu, Paul Tukan, SVD justru mengambil arah berbeda. Ia memilih meninggalkan kenyamanan demi menjawab panggilan Tuhan. Bersama Beberapa teman lainnya Ia akan ditahbiskan menjadi Diakon pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang.

Pilihan itu bukanlah keputusan spontan tanpa pergulatan. Di balik wajah tenang dan senyum sederhana yang terpancar dari dirinya, tersimpan perjuangan batin yang panjang. Jalan panggilan yang ia pilih berkali-kali diguncang pertanyaan, keraguan, bahkan ketakutan. Ia sadar bahwa menjadi seorang pelayan Tuhan berarti siap menyerahkan hidup bagi sesuatu yang jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi.

“Apa yang sebenarnya saya cari di jalan panggilan ini?” Pertanyaan itu sering datang menghantui dirinya. Di saat yang sama, ia juga bergulat dengan kenyataan hidup dewasa ini yang penuh tantangan. Dunia sedang menghadapi banyak krisis: krisis ekonomi, krisis moral, krisis kemanusiaan, bahkan krisis iman. Banyak orang mulai kehilangan harapan dan arah hidup. Dalam situasi seperti itu, keputusan menjadi seorang misionaris sering dianggap terlalu berani, bahkan nekat.

Baca juga: Jembatan Lapuk Telan Nyawa Turis Austria di Cunca Wulang, Pariwisata Super Premium Dipertanyakan

Tidak sedikit orang mempertanyakan pilihannya. Ada yang bertanya dengan nada penasaran, tetapi ada pula yang menyampaikan keraguan dengan nada sinis. Sebagian menganggap hidup religius tidak lagi relevan di zaman modern. Ada yang melihat pilihan itu sebagai jalan penuh penderitaan tanpa jaminan masa depan. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam meremehkan perjuangan mereka yang memilih hidup membiara.

Namun, bagi Paul Tukan, panggilan bukan soal mencari kenyamanan duniawi. Baginya, hidup adalah tentang menjawab kehendak Tuhan dengan setia. Ia percaya bahwa hidup yang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh adalah hidup yang layak dijalani dengan penuh keberanian.

Keyakinan itu semakin diteguhkan oleh motto tahbisannya yang diambil dari Injil Yohanes 14:27: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Sabda itu menjadi pegangan kuat dalam perjalanan panggilannya. Ketika rasa takut datang, ketika keraguan mulai menguasai hati, ketika masa depan terasa kabur, ia kembali mengingat pesan Yesus kepada para murid-Nya.

Baca juga: SMA Negeri 1 Bola Tampil Memukau dalam Pentas Seni Galang Dana Pembangunan Aula dan Pastoran Paroki Renha Rosari Hale Hebing

Ayat itu lahir dalam situasi yang tidak mudah. Saat itu para murid sedang merasa takut dan gelisah menghadapi ancaman serta ketidakpastian. Namun Yesus hadir membawa penghiburan dan harapan. Pesan itu pula yang kini dihidupi oleh Paul. Ia percaya bahwa hati yang dikuasai kecemasan tidak akan mampu menjadi alat bagi karya Tuhan.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru