Di Tengah Krisis Zaman, Paul Tukan Berani Tinggalkan Kenyamanan Demi Tuhan”

Tidak sedikit orang mempertanyakan pilihannya. Ada yang bertanya dengan nada penasaran, tetapi ada pula yang menyampaikan keraguan dengan nada sinis. Sebagian menganggap hidup religius tidak lagi relevan di zaman modern. Ada yang melihat pilihan itu sebagai jalan penuh penderitaan tanpa jaminan masa depan. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam meremehkan perjuangan mereka yang memilih hidup membiara.

Di tengah segala keterbatasan manusia, Tuhan justru mampu menciptakan “tanda heran”. Kalimat sederhana itu menjadi refleksi mendalam dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa panggilan bukan tentang kehebatan pribadi, melainkan tentang kesediaan untuk dipakai Tuhan. Dalam kelemahan manusia, Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Perjalanan hidup  Paul tidak dibangun dalam kemewahan. Ia berasal dari Waiwerang, Adonara, lahir pada 7 Mei 1998. Dari tanah sederhana di Flores Timur itulah benih panggilan mulai tumbuh perlahan dalam dirinya. Kehidupan masyarakat sederhana yang penuh iman membentuk karakter dan semangat pengabdiannya sejak kecil.

Ia mengawali pendidikan di SDK St. Yosef Lite-Adonara Tengah pada tahun 2004 hingga 2010. Sejak masa sekolah dasar, ia dikenal sebagai pribadi sederhana dan tekun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMP Seminari BSB Maumere pada tahun 2010 hingga 2013. Keputusan masuk seminari sejak usia muda menunjukkan bahwa benih panggilan itu sudah mulai bertumbuh dalam dirinya.

Perjalanan itu kemudian berlanjut di SMA Seminari BSB Maumere pada tahun 2013 hingga 2016. Masa pendidikan seminari menjadi fase penting yang membentuk mental, spiritualitas, dan kedewasaan dirinya. Di sana ia belajar bahwa menjadi pelayan Tuhan bukan hanya soal doa dan liturgi, tetapi juga tentang membangun disiplin hidup, semangat persaudaraan, dan kesiapan melayani sesama.

Sesudah menamatkan pendidikan menengah, ia memasuki Novisiat SVD St. Yosef Nenuk Atambua pada tahun 2017 hingga 2019. Masa novisiat merupakan tahap pembinaan yang sangat menentukan dalam hidup religius. Pada fase inilah seseorang diuji secara mendalam: apakah ia sungguh siap menyerahkan hidup bagi Tuhan atau tidak.

Bagi Paul Tukan, masa itu bukan perjalanan mudah. Ada banyak pergulatan yang harus dihadapi. Ia harus belajar meninggalkan ego pribadi, kenyamanan hidup, dan berbagai ambisi duniawi. Namun justru dalam proses itulah ia semakin memahami makna panggilan. Ia belajar bahwa menjadi misionaris berarti siap diutus ke mana saja demi pelayanan.

Setelah menyelesaikan novisiat, ia melanjutkan studi filsafat di IFTK Ledalero pada tahun 2019 hingga 2023. Dunia filsafat membuka cakrawala berpikirnya semakin luas. Ia belajar memahami manusia, kehidupan, iman, dan berbagai persoalan dunia secara lebih mendalam. Pendidikan itu tidak hanya membentuk kecerdasan intelektualnya, tetapi juga menolongnya memahami bahwa iman harus tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru