Di Tengah Krisis Zaman, Paul Tukan Berani Tinggalkan Kenyamanan Demi Tuhan”

Tidak sedikit orang mempertanyakan pilihannya. Ada yang bertanya dengan nada penasaran, tetapi ada pula yang menyampaikan keraguan dengan nada sinis. Sebagian menganggap hidup religius tidak lagi relevan di zaman modern. Ada yang melihat pilihan itu sebagai jalan penuh penderitaan tanpa jaminan masa depan. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam meremehkan perjuangan mereka yang memilih hidup membiara.

Pada tahun 2023 hingga 2024, Paul melanjutkan TOP di Universitas Widya Mandira Kupang. Kini, sejak tahun 2024 hingga 2026, ia sedang menempuh studi Magister Teologi di IFTK Ledalero sebagai bagian dari proses persiapan pelayanan yang lebih matang.

Di balik semua proses panjang itu, satu hal yang tetap menjadi kekuatannya ialah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu, sekalipun jalan panggilan penuh tantangan, ia tetap memilih bertahan.

Pilihan hidup seperti yang diambil Paul Tukan menjadi sesuatu yang langka di tengah zaman sekarang. Ketika banyak orang muda takut kehilangan kenyamanan, ia justru rela melepaskan banyak hal demi pelayanan. Ketika sebagian generasi muda sibuk mengejar pengakuan dunia, ia memilih jalan sunyi yang mungkin tidak dikenal banyak orang.

Namun justru di situlah letak keindahan panggilan. Panggilan bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi setia. Panggilan bukan soal hidup tanpa masalah, tetapi tentang keberanian untuk tetap percaya ketika badai datang menerpa.

Paul memahami bahwa keputusan hidupnya mungkin tidak akan menyenangkan semua orang. Akan selalu ada pihak yang meragukan, mencibir, bahkan memandang rendah pilihan tersebut. Tetapi baginya, hidup bukan tentang memuaskan semua orang. Hidup adalah tentang menemukan kehendak Tuhan dan menjalankannya dengan tulus.

Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Ada yang dipanggil menjadi guru, dokter, petani, nelayan, jurnalis, atau pemimpin masyarakat. Sementara dirinya merasa dipanggil untuk mempersembahkan hidup bagi karya misi Allah melalui Serikat Sabda Allah (SVD).

Pilihan itu lahir bukan karena ingin terlihat suci atau hebat, tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan memanggilnya untuk melayani. Dalam dunia yang semakin individualistis, kehadiran orang-orang yang rela mengabdi bagi sesama menjadi cahaya harapan yang sangat dibutuhkan.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru