Gadis Berpayung

"Dari sekian pemuda yang berbaris di altar itu, ada yang pernah menjadi lenggananku."
Langkah kecilku, mengakhiri semua curiga.
Ilustrasi

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Pembaca yang budiman. Martin Wukak, salah satu penulis dan pencinta sastra kembali menyuguhkan sebuah cerpen yang berjudul GADIS BERPAYUNG. Sebagai penulis ia sungguh ‘sudah mati’ dan membaca adalah cara kita menghidupkannya. Selamat membaca, selamat menghidupkannya !

 

 

Baca juga: Tulis Tangan

Aku duduk di bangku kayu paling belakang kapela tua itu, tepat di bawah bayang-bayang patung Pastor Johannes. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela sempit, memantul pada wajah patungnya yang tenang—seakan ia masih mengawasi umatnya, bahkan setelah dua puluh tahun kematiannya.

Di kapela ini, waktu seperti berjalan lebih lambat. Dindingnya retak halus, lantainya berderit setiap kali diinjak, dan bau kayu tua bercampur dupa selalu mengingatkanku pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan: antara damai dan kehilangan.

Konon, Pastor Johannes datang dari negeri jauh, meninggalkan kenyamanan hidupnya demi kampung kecil ini. Ia hidup sederhana, makan apa yang dimakan warga, berjalan kaki dari rumah ke rumah, membawa doa dan beras dalam tangan yang sama. Orang-orang mencintainya bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia hadir.

Baca juga: Dari Panggung Futsal ke Panggung Sepak Bola, Jejak Erwin Pitang Jadi Komentator Soeratin Cup dan Pertiwi Cup di Maumere

Aku bertanya dalam diam. “Apakah semua orang yang memilih jalan itu benar-benar siap menanggungnya?”

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru