Gadis Berpayung

"Dari sekian pemuda yang berbaris di altar itu, ada yang pernah menjadi lenggananku."
Langkah kecilku, mengakhiri semua curiga.
Ilustrasi

Aku menolak. Sekali. Dua kali. Namun ia terus mendesak, aku memilih mengalah.

Mungkin karena aku percaya padanya. Atau mungkin karena aku belum pernah belajar untuk benar-benar menolak orang yang kucintai. Di perjalanan, aku mencium bau yang asing dari napasnya—tajam, menusuk, seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Aroma Alkohol. Ya, mungkin dia juga butuh tegukan itu, mungkin ada banyak yang dia simpan. Angin malam dan suara hujan cukup untuk mengisi keheningan di antara kami. Kami melaju beberapa saat, sebelum motor itu mati di dekat pemakaman. Kami turun. Hujan masih jatuh, menetes dari rambutku ke bahu, dari bahu ke tanah. Ia mencoba memperbaiki motor itu, membuka-buka bagian yang bahkan tak kupahami. Aku hanya berdiri, memeluk diri sendiri, menatap gelap yang terlalu pekat. Sepuluh menit terasa seperti satu jam. Akhirnya kami berjalan. Menuju rumahnya. Rumah itu kosong,  dan entah kenapa, kesunyian di dalamnya terasa lebih menakutkan daripada gelap di luar. Aku duduk di tepi ranjang, mencoba mengatur napas. Ia bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan. Aku menunggu. Namun yang datang bukanlah kata-kata. Melainkan perubahan. Sikapnya menjadi asing. Tatapannya berbeda. Tangannya tidak lagi sekadar menyentuh—tetapi menahan, menekan, menguasai. Aku mencoba menolak. Awalnya dengan kata. Lalu dengan gerakan. Lalu dengan tangis. Tapi kepercayaan yang selama ini kuberikan padanya berubah menjadi sesuatu yang tak bisa kukendalikan malam itu. Dan di luar, hujan tetap turun—seolah dunia memilih diam, hening dan menyakitkan.

***

Setelah semuanya selesai, tidak ada yang benar-benar selesai. Ia meminta maaf. Berkali-kali. Suaranya pecah, tangannya gemetar. Tapi kata-kata itu terasa kosong—seperti datang terlambat, ketika sesuatu yang penting sudah hilang. Aku tidak menjawab. Aku hanya berdiri, merapikan diri yang tak lagi sama, lalu berjalan keluar. Di ambang pintu, dekat jubah putih bergantung, ia memberiku sebuah payung hitam.

 

“Biar kamu tidak kehujanan,” katanya.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru