Gadis Berpayung

"Dari sekian pemuda yang berbaris di altar itu, ada yang pernah menjadi lenggananku."
Langkah kecilku, mengakhiri semua curiga.
Ilustrasi

Pertanyaan itu menggantung.Tanpa kusadari, ingatanku berjalan mundur. Bukan pada kisah Pastor Johannes. Melainkan pada seseorang yang dulu duduk di sampingku—di bangku yang sama.

Natan. Namanya kini seperti bisikan yang enggan keluar dari mulutku. Namun, di tempat ini, segala yang kusembunyikan seakan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.

 

***

Malam itu juga hujan. Hujan yang turun tanpa jeda, seperti langit yang kelelahan menahan sesuatu. Setelah misa peringatan Pastor Johannes, kapela masih ramai oleh suara orang-orang. Aku berniat tinggal lebih lama—membantu membersihkan altar, menata kursi, atau sekadar memperpanjang waktu bersama teman-teman.Tapi Natan datang. Ia berdiri di dekat tungku dupa, wajahnya setengah gelap oleh cahaya api. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya—gelisah, tapi juga memaksa.

 

“Ayo pulang,” katanya.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru