Pertanyaan itu menggantung.Tanpa kusadari, ingatanku berjalan mundur. Bukan pada kisah Pastor Johannes. Melainkan pada seseorang yang dulu duduk di sampingku—di bangku yang sama.
Natan. Namanya kini seperti bisikan yang enggan keluar dari mulutku. Namun, di tempat ini, segala yang kusembunyikan seakan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.
***
Malam itu juga hujan. Hujan yang turun tanpa jeda, seperti langit yang kelelahan menahan sesuatu. Setelah misa peringatan Pastor Johannes, kapela masih ramai oleh suara orang-orang. Aku berniat tinggal lebih lama—membantu membersihkan altar, menata kursi, atau sekadar memperpanjang waktu bersama teman-teman.Tapi Natan datang. Ia berdiri di dekat tungku dupa, wajahnya setengah gelap oleh cahaya api. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya—gelisah, tapi juga memaksa.
“Ayo pulang,” katanya.
