Aku menerimanya tanpa melihat wajahnya. Malam itu, aku pulang membawa dua hal, payung hitam miliknya, dan luka yang tak terlihat. Sejak saat itu, aku belajar diam. Bukan karena aku tidak punya cerita, tetapi karena tidak semua cerita bisa diucapkan tanpa kembali melukai diri sendiri.
Natan perlahan menghilang dari hidupku. Pesan-pesannya menjadi jarang, lalu tidak ada sama sekali. Ketika aku mencoba menuntut penjelasan, ia hanya berkata agar aku tidak perlu terlalu takut. Kalimat itu terus terngiang. Seolah yang terjadi malam itu hanyalah sesuatu yang kecil. Padahal bagiku, itu adalah batas yang tak bisa dikembalikan. Yang tersisa hanyalah payung hitam itu—tergantung di belakang pintu kamarku, menjadi saksi yang tak pernah bicara.
***
“Amel.”
Suara itu menarikku kembali ke kapela. Ibu Etty berdiri di pintu, dengan senyum yang masih sama seperti dulu. Hangat, tulus—dan entah kenapa, justru membuat dadaku sesak.
