Gadis Berpayung

"Dari sekian pemuda yang berbaris di altar itu, ada yang pernah menjadi lenggananku."
Langkah kecilku, mengakhiri semua curiga.
Ilustrasi

Aku menerimanya tanpa melihat wajahnya. Malam itu, aku pulang membawa dua hal, payung hitam miliknya, dan luka yang tak terlihat. Sejak saat itu, aku belajar diam. Bukan karena aku tidak punya cerita, tetapi karena tidak semua cerita bisa diucapkan tanpa kembali melukai diri sendiri.

Natan perlahan menghilang dari hidupku. Pesan-pesannya menjadi jarang, lalu tidak ada sama sekali. Ketika aku mencoba menuntut penjelasan, ia hanya berkata agar aku tidak perlu terlalu takut. Kalimat itu terus terngiang. Seolah yang terjadi malam itu hanyalah sesuatu yang kecil. Padahal bagiku, itu adalah batas yang tak bisa dikembalikan. Yang tersisa hanyalah payung hitam itu—tergantung di belakang pintu kamarku, menjadi saksi yang tak pernah bicara.

 

***

 

“Amel.”

Suara itu menarikku kembali ke kapela. Ibu Etty berdiri di pintu, dengan senyum yang masih sama seperti dulu. Hangat, tulus—dan entah kenapa, justru membuat dadaku sesak.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru