Tulis Tangan

"Aku memang tidak memiliki tangan untuk memegang pensil ataupun kaki untuk berlari mengejar teman-teman. Yang kupunya hanya mata yang tak pernah lelah membaca dan hati yang selalu ingin belajar. Aku sangat mencintai buku. Setiap halaman yang kubaca membuatku merasa bebas. Di dalam buku, aku bisa pergi ke mana saja tanpa harus berjalan. Aku bisa menjadi siapa saja tanpa harus memiliki tubuh yang sempurna".
Felix Sugar, Penulis, berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- Sahabat Perspektif. Berikut merupakan sebuah cerpen yang ditulis oleh salah satu penulis terbaik yang berasal dari Manggarai dan saat ini sedang mengenyam pendidikan di IFTK Ledalero. Namanya Felix Sugar. Selamat membaca.

 

Arga, anak laki-laki berusia dua belas tahun yang lahir tanpa tangan dan kaki, memiliki mimpi menjadi seorang penulis. Di tengah keterbatasan fisik, ia menemukan harapan melalui buku-buku di perpustakaan yang ada di desanya. Namun, ketika satu-satunya tempat yang memberinya kesempatan untuk bermimpi terancam ditutup, Arga kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa bukan hanya tubuhnya yang dibatasi, tetapi juga haknya untuk belajar dan dihargai sebagai manusia.

Baca juga: Cerita Berdarah || Cerpen Allex Sehatang

“Anak yang paling sering meminjam buku di perpustakaan itu justru adalah anak yang tak pernah bisa menulis.”

****

Namaku Arga. Usia dua belas tahun. Aku lahir tanpa kedua tangan dan kaki. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat tatapan heran orang-orang. Sebagian menatapku dengan iba, sebagian lagi menganggap aku hanya beban. Padahal, aku sama seperti mereka. Aku bisa berpikir, bermimpi, dan berharap. Aku memang tidak memiliki tangan untuk memegang pensil ataupun kaki untuk berlari mengejar teman-teman. Yang kupunya hanya mata yang tak pernah lelah membaca dan hati yang selalu ingin belajar. Aku sangat mencintai buku. Setiap halaman yang kubaca membuatku merasa bebas. Di dalam buku, aku bisa pergi ke mana saja tanpa harus berjalan. Aku bisa menjadi siapa saja tanpa harus memiliki tubuh yang sempurna.

Baca juga: SENJA MERAH SAGA DI FATUCAMA

Namun, setiap kali selesai membaca, dadaku selalu terasa sesak setengah mati. Aku ingin menulis. Aku ingin menuliskan semua cerita yang berputar di kepalaku. Sayangnya, aku tak memiliki tangan untuk melakukannya. Mimpi itu terasa begitu dekat di hati, tetapi sangat jauh untuk kugapai. Setiap ungkapan dari mulutku terasa hambar. Aku tak membenci diriku tapi kadang aku mengeluh.

Halaman: 123456789

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru