“Natan akan ditahbiskan,” katanya pelan. Aku mengangguk.
Tidak ada yang jatuh dari mataku. Tapi sesuatu di dalam diriku bergerak—pelan, seperti luka lama yang disentuh kembali. Hari pentahbisan itu datang bersama hujan. Aku berjalan menuju kapela dengan payung hitam yang warnanya mulai pudar. Jalanan sepi, hanya suara langkahku dan rintik hujan yang menemani. Di dalam, semuanya terasa sakral. Nyanyian, doa, jubah putih—semuanya tampak bersih, seolah masa lalu tidak pernah ada. Aku duduk di bangku belakang. Tidak berani melihat ke depan. Ketika suaranya terdengar untuk pertama kali, aku menahan napas.
***
“Semoga Tuhan beserta kita.”
Aku mengenali suara itu.Tapi aku tidak mengenal orang yang mengucapkannya.
Aku keluar sebelum perayaan benar-benar selesai. Aku tidak ingin bertemu dengannya.
