Namun payungku tiba-tiba hipang dari tatapanku. Ia terjatuh di dekat pintu sakristi.
Dan ketika aku hendak mengambilnya, seseorang lebih dulu meraihnya.
Natan.
Waktu berhenti di antara kami.
Ia tampak berbeda, lebih tenang, lebih rapi, lebih… jauh. Ia menyerahkan payung itu padaku. Jari kami sempat bersentuhan.
“Jika masa laluku melukaimu,” katanya lirih, “jangan biarkan itu melukai jalan yang kupilih sekarang.”
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu. Namun tidak ada kata yang keluar. Karena aku tahu—beberapa luka tidak membutuhkan penjelasan. Hanya jarak.
