Gadis Berpayung

"Dari sekian pemuda yang berbaris di altar itu, ada yang pernah menjadi lenggananku."
Langkah kecilku, mengakhiri semua curiga.
Ilustrasi

Namun payungku tiba-tiba hipang dari tatapanku. Ia terjatuh di dekat pintu sakristi.

Dan ketika aku hendak mengambilnya, seseorang lebih dulu meraihnya.

Natan.

Waktu berhenti di antara kami.

Ia tampak berbeda, lebih tenang, lebih rapi, lebih… jauh. Ia menyerahkan payung itu padaku. Jari kami sempat bersentuhan.

“Jika masa laluku melukaimu,” katanya lirih, “jangan biarkan itu melukai jalan yang kupilih sekarang.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu. Namun tidak ada kata yang keluar. Karena aku tahu—beberapa luka tidak membutuhkan penjelasan. Hanya jarak.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru