****
Melihat kesedihanku, Nero dan teman-teman mulai mengumpulkan tanda tangan warga agar perpustakaan tidak ditutup. Mereka mendatangi rumah-rumah penduduk. Sebagian mendukung. Sebagian lagi menolak.
“Buat apa mempertahankan perpustakaan? Lebih baik dijadikan gudang.”
Ucapan itu kembali melukai hatiku. Saat itulah aku sadar. Yang sedang dijajah bukan hanya bangunan perpustakaan. Tetapi juga harapan. Terutama harapan anak-anak miskin dan anak-anak seperti diriku yang hanya memiliki buku sebagai jalan untuk bermimpi. Aku memang tidak bisa menulis dengan tangan. Namun aku masih bisa bercerita.
Aku mulai menceritakan kisah-kisah yang kubaca kepada anak-anak kecil setiap sore. Mereka duduk mengelilingiku dengan penuh semangat. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mimpiku belum sepenuhnya hilang. Mungkin aku belum bisa menjadi penulis. Tetapi aku bisa membuat orang lain mencintai cerita.
****
Aku belajar bahwa keterbatasan tubuh bukanlah alasan seseorang kehilangan harga dirinya. Yang lebih berbahaya adalah ketika manusia kehilangan kepedulian terhadap sesama hanya karena melihat perbedaan. Perpustakaan mungkin suatu hari benar-benar akan ditutup. Namun, selama masih ada orang yang mau membaca, belajar, dan menghargai sesama manusia tanpa memandang kondisi fisiknya, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan aku, Arga, akan terus bermimpi menjadi penulis, meskipun dunia berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa menulis.*