“Ah, buat apa dipertahankan?” kata seorang warga.
“Yang datang juga cuma sedikit.”
Kalimat itu menusuk hatiku. Aku ingin berteriak. Aku ingin mengatakan bahwa tempat itu telah menyelamatkan banyak mimpi. Tetapi suaraku tertahan. Aku hanya bisa menangis. Bukan karena perpustakaan akan hilang. Melainkan karena aku merasa orang-orang menganggap mimpi anak-anak desa, termasuk mimpiku, tidak pernah penting.
*****
Suatu sore, seperti biasa Nero menggendong Arga menuju perpustakaan. Wajah Arga tampak cerah karena hari itu ia berniat meminjam sebuah buku tentang para ilmuwan. Ia percaya, setiap buku yang dibacanya akan membawanya selangkah lebih dekat pada cita-citanya menjadi penulis. Namun, baru saja mereka tiba di depan pintu, terdengar suara beberapa orang dewasa yang sedang berbincang di teras perpustakaan.
“Itu anak cacat datang lagi,” bisik seorang laki-laki sambil melirik Arga.
“Kasihan memang, tapi buat apa terus membaca? Dia juga tidak akan bisa menulis. Buku-buku itu lebih baik dipakai anak yang benar-benar punya masa depan.”