Tulis Tangan

"Aku memang tidak memiliki tangan untuk memegang pensil ataupun kaki untuk berlari mengejar teman-teman. Yang kupunya hanya mata yang tak pernah lelah membaca dan hati yang selalu ingin belajar. Aku sangat mencintai buku. Setiap halaman yang kubaca membuatku merasa bebas. Di dalam buku, aku bisa pergi ke mana saja tanpa harus berjalan. Aku bisa menjadi siapa saja tanpa harus memiliki tubuh yang sempurna".
Felix Sugar, Penulis, berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).

Setelah pulang sekolah, aku hampir selalu pergi ke perpustakaan desa. Di sanalah aku merasa diterima. Rak-rak buku menjadi sahabatku. Setiap hari aku membaca apa saja yang tersedia. Novel, sejarah, cerita rakyat, sampai buku pengetahuan. Aku hafal letak hampir semua buku. Penjaga perpustakaan bahkan sering bercanda.

“Arga lebih hafal isi perpustakaan daripada saya.”

Aku hanya tertawa. Di dalam hati, aku berjanji suatu hari nanti akan ada bukuku sendiri di rak itu. Namun, suatu sore, ketika hendak meminjam buku baru, kulihat sebuah pengumuman ditempel di pintu. Perpustakaan akan ditutup karena bangunan akan dijual untuk melunasi utang pemilik tanah. Tubuhku seakan membeku. Aku membaca pengumuman itu berulang kali. Tidak. Ini pasti salah. Aku bertanya kepada penjaga perpustakaan.

“Benarkah perpustakaan ini akan ditutup?”

Beliau mengangguk pelan.

“Iya, Nak. Kami sudah tidak mampu mempertahankannya.”

Dadaku terasa sesak. Aku pulang dengan mata yang terus menatap langit. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada rumah. Esoknya, anak-anak desa berkumpul di depan perpustakaan. Semua kecewa. Namun, tidak ada seorang pun yang berani menyampaikan pendapat.

Halaman: 123456789

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru