Setelah pulang sekolah, aku hampir selalu pergi ke perpustakaan desa. Di sanalah aku merasa diterima. Rak-rak buku menjadi sahabatku. Setiap hari aku membaca apa saja yang tersedia. Novel, sejarah, cerita rakyat, sampai buku pengetahuan. Aku hafal letak hampir semua buku. Penjaga perpustakaan bahkan sering bercanda.
“Arga lebih hafal isi perpustakaan daripada saya.”
Aku hanya tertawa. Di dalam hati, aku berjanji suatu hari nanti akan ada bukuku sendiri di rak itu. Namun, suatu sore, ketika hendak meminjam buku baru, kulihat sebuah pengumuman ditempel di pintu. Perpustakaan akan ditutup karena bangunan akan dijual untuk melunasi utang pemilik tanah. Tubuhku seakan membeku. Aku membaca pengumuman itu berulang kali. Tidak. Ini pasti salah. Aku bertanya kepada penjaga perpustakaan.
“Benarkah perpustakaan ini akan ditutup?”
Beliau mengangguk pelan.
“Iya, Nak. Kami sudah tidak mampu mempertahankannya.”
Dadaku terasa sesak. Aku pulang dengan mata yang terus menatap langit. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasa kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada rumah. Esoknya, anak-anak desa berkumpul di depan perpustakaan. Semua kecewa. Namun, tidak ada seorang pun yang berani menyampaikan pendapat.