Air mata ibu akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Melihat itu, aku menyesal telah bertanya. Ibu kemudian mengusap kepalaku. Memeluk erat tubuhku sedang aku bersandar dikursi yang empuk di tangan ibu.
“Kalau sudah besar, apa cita-citamu nak?”
Aku menjawab tanpa ragu.
“Aku ingin menjadi penulis… dan seorang profesor Bu.”
Ibu tersenyum, meski matanya masih basah.
“Itu cita-cita yang sangat mulia. Jangan pernah berhenti bermimpi, Nak.”
*****