“Kalau sudah besar, apa cita-citamu nak?”
Aku menjawab tanpa ragu.
“Aku ingin menjadi penulis… dan seorang profesor Bu.”
Ibu tersenyum, meski matanya masih basah.
“Itu cita-cita yang sangat mulia. Jangan pernah berhenti bermimpi, Nak.”
***
Sejak hari itu, aku semakin rajin membaca. Di sekolah, teman-teman sering membantuku. Mereka bergantian menggendongku menuju kelas. Di antara mereka, Nero adalah yang paling sering membantuku. Setiap pagi, Nero datang ke rumah.