Suatu sore, saat duduk di dekat tungku api sambil menunggu ubi bakar, aku memberanikan diri bertanya kepada ibu.
“Bu, kenapa aku lahir tanpa tangan dan kaki?”
Ibu yang sedang membalik ubi terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Matanya memerah, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Nak… ibu juga tidak tahu.”
Suaranya pelan.
“Ibu hanya tahu bahwa sejak kamu ada di dalam kandungan, ibu selalu berharap kamu lahir dengan selamat.”
Air mata ibu akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Melihat itu, aku menyesal telah bertanya. Ibu kemudian mengusap kepalaku. Memeluk erat tubuhku sedang aku bersandar dikursi yang empuk di tangan ibu.