Sejak hari itu, aku semakin rajin membaca. Di sekolah, teman-teman sering membantuku. Mereka bergantian menggendongku menuju kelas. Di antara mereka, Nero adalah yang paling sering membantuku. Setiap pagi, Nero datang ke rumah.
“Ayo, Ga. Kita terlambat.”
Ia menggendongku tanpa pernah mengeluh. Namun, tidak semua orang memandangku seperti Nero. Beberapa anak dari kelas lain sering mengejek.
“Ngapain sekolah? Toh nanti juga tidak bisa kerja.”
“Percuma pintar kalau tidak punya tangan.”
Aku hanya diam. Bukan karena tidak sakit. Tetapi karena aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Yang paling menyakitkan bukan tubuhku yang berbeda, melainkan cara orang memperlakukanku seolah aku tidak memiliki masa depan.Tapi, aku membayangkan diriku berbeda karena cara Tuhan menitipkan orang di sekitar aku.
****