Tulis Tangan

"Aku memang tidak memiliki tangan untuk memegang pensil ataupun kaki untuk berlari mengejar teman-teman. Yang kupunya hanya mata yang tak pernah lelah membaca dan hati yang selalu ingin belajar. Aku sangat mencintai buku. Setiap halaman yang kubaca membuatku merasa bebas. Di dalam buku, aku bisa pergi ke mana saja tanpa harus berjalan. Aku bisa menjadi siapa saja tanpa harus memiliki tubuh yang sempurna".
Felix Sugar, Penulis, berasal dari Manggarai-Flores, NTT adalah seorang Mahasiswa di Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero. Ia telah giat dalam menulis dibeberapa media lokal maupun pada jurnal ilmiah. Selain itu, Ia telah menerbitkan dua buku dengan judul Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja (2024) dan Sapu Tangan Tanya? (2025).

Sejak hari itu, aku semakin rajin membaca. Di sekolah, teman-teman sering membantuku. Mereka bergantian menggendongku menuju kelas. Di antara mereka, Nero adalah yang paling sering membantuku. Setiap pagi, Nero datang ke rumah.

“Ayo, Ga. Kita terlambat.”

Ia menggendongku tanpa pernah mengeluh. Namun, tidak semua orang memandangku seperti Nero. Beberapa anak dari kelas lain sering mengejek.

“Ngapain sekolah? Toh nanti juga tidak bisa kerja.”

“Percuma pintar kalau tidak punya tangan.”

Aku hanya diam. Bukan karena tidak sakit. Tetapi karena aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Yang paling menyakitkan bukan tubuhku yang berbeda, melainkan cara orang memperlakukanku seolah aku tidak memiliki masa depan.Tapi, aku membayangkan diriku berbeda karena cara Tuhan menitipkan orang di sekitar aku.

****

Halaman: 123456789

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru