Ucapan itu terdengar jelas. Arga mematung. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menundukkan kepala, tetapi yang mampu ia lakukan hanyalah menatap rak-rak buku yang selama ini menjadi tempat ia menyimpan harapan. Nero mengepalkan tangannya.
“Jangan bicara begitu! Arga sama seperti kita. Dia berhak membaca,” kata Nero dengan suara bergetar.
Laki-laki itu hanya tertawa sinis.
“Hak? Dunia ini tidak hidup dari belas kasihan. Anak seperti dia hanya akan menjadi beban sampai tua.”
Suasana mendadak hening. Beberapa anak yang berada di perpustakaan ikut menatap Arga. Tidak ada yang berani membela selain Nero. Arga merasakan matanya mulai basah. Untuk pertama kalinya ia ingin pulang tanpa membaca satu halaman pun. Namun, penjaga perpustakaan menghampirinya dan meletakkan sebuah buku di hadapannya.
“Jangan dengarkan mereka, Ga. Buku tidak pernah memilih siapa yang berhak membacanya. Ilmu juga tidak pernah membedakan manusia.”
Arga menatap sampul buku itu cukup lama. Perlahan ia menganggukkan kepala. Meski kata-kata penghinaan masih terngiang di telinganya, ia memilih membuka halaman pertama. Di dalam hatinya ia berjanji, suatu hari nanti ia akan membuktikan bahwa mimpi seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuh, melainkan oleh keberanian untuk terus bertahan.