Perspektif Teologis
Dalam teologi Katolik, inkulturasi bukanlah sekadar pengakuan terhadap adat yang lebih tua, melainkan proses perjumpaan kritis antara Injil dan budaya. Pedro Arrupe menegaskan bahwa inkulturasi selalu bersifat dua arah: Injil menjelma dalam budaya, tetapi juga memanggil budaya pada pertobatan.
Konsili Vatikan II (Gaudium et Spes) menegaskan bahwa tidak ada budaya yang kebal terhadap penilaian Injil. Maka, argumen “adat lebih dahulu dari agama” tidak boleh dijadikan dasar untuk menempatkan adat di luar kritik iman.
Konteks Flores: Ketika Budaya Berubah Menjadi Agama
Di Flores, ungkapan seperti “ini sudah adat” sering digunakan sebagai argumen final yang menutup ruang dialog etis dan teologis. Dalam praktik sosial, ungkapan ini berfungsi sebagai otoritas moral tertinggi, bahkan lebih kuat daripada ajaran Injil.
Hal ini tampak dalam beberapa contoh konkret. Pertama, dalam ritual adat tertentu khususnya upacara kematian, keluarga sering diwajibkan mengikuti tuntutan adat yang sangat mahal. Ketika praktik ini dipertanyakan atas dasar keadilan sosial atau keberpihakan pada kaum miskin, jawaban yang muncul hampir selalu sama: adat tidak bisa diubah. Akibatnya, nilai Injil tentang solidaritas dan belas kasih dikalahkan oleh kewajiban adat yang telah disakralkan.
Kedua, pelanggaran terhadap adat sering dipandang sebagai “dosa sosial” yang mencemari seluruh komunitas dan diyakini mendatangkan malapetaka. Sebaliknya, pelanggaran terhadap nilai Injil seperti ketidakjujuran, kekerasan domestik, atau ketidakadilan struktural kerap ditoleransi selama tidak melanggar adat.
