Ketiga, struktur sosial adat yang hierarkis dan patriarkal sering diterima tanpa kritik, meskipun bertentangan dengan visi Injil tentang kesetaraan martabat manusia. Dalam situasi ini, adat tidak lagi menjadi objek pemurnian iman, melainkan sumber legitimasi moral.
Amerika Latin: Agama sebagai Budaya
Pengalaman iman di Amerika Latin menunjukkan dinamika yang berbeda. Di sana, agama Katolik tidak sekedar diinkulturasikan, tetapi melalui sejarah kolonial, perlawanan, dan devosi populer, telah membentuk budaya itu sendiri. Devosi kepada Bunda Maria Guadalupe di Meksiko, misalnya, bukan hanya praktik religius, tetapi simbol identitas nasional dan solidaritas kaum tertindas.
Prosesi dan perayaan religius menyatu dengan kalender sosial dan politik, sementara bahasa iman digunakan secara luas dalam perjuangan keadilan sosial. Namun, budaya religius ini tidak kebal terhadap kritik iman. Melalui Teologi Pembebasan, simbol-simbol religius terus ditafsir ulang dalam terang penderitaan konkret manusia. Dengan demikian, agama menjadi budaya tanpa kehilangan daya profetisnya.
Analisis Kritis: Adat Lebih Dahulu, Tetapi Injil Lebih Dalam
Argumen bahwa adat lebih dahulu dari agama sering digunakan untuk menolak kritik teologis. Namun, dalam iman Kristiani, yang lebih dahulu secara historis tidak selalu lebih menentukan secara normatif. Injil tidak diukur oleh usia tradisi, melainkan oleh daya kebenarannya dalam membebaskan manusia dan memuliakan martabatnya.
Perbedaan mendasar antara Flores dan Amerika Latin terletak pada arah relasi antara iman dan budaya. Di Flores, budaya sering menilai iman. Di Amerika Latin, iman meskipun telah menjadi budaya tetap berfungsi sebagai ukuran kritis bagi praktik sosial. Dan ketika budaya tidak lagi terbuka terhadap koreksi Injil, budaya berhenti menjadi medium dan berubah menjadi absolut. Inilah resiko idolatri kultural.
