Sambut Baru di Sikka: Orang Tua, Anak dan Kesederhanaan, Wajibkah Pesta?

Jika saya membuat pesta tetapi semua kebutuhan ditanggung orang lain atau menggunakan dana pinjaman, maka itu bukan ungkapan syukur yang sungguh-sungguh dari kemampuan sendiri, melainkan pesta yang lahir karena keterpaksaan.
Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Menjelang perayaan Komuni Suci Pertama yang akan berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026, banyak orang tua di Kabupaten Sikka mulai disibukkan dengan berbagai persiapan untuk menyambut momen penting dalam perjalanan iman anak-anak mereka. Selain persiapan rohani melalui pembinaan di gereja, muncul pula pertanyaan yang kerap menjadi perbincangan di tengah masyarakat: apakah sambut baru harus dirayakan dengan pesta yang meriah?

Tulisan reflektif yang disampaikan Urbanus Xaverius Landa, alumni Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya, mengangkat dilema yang dihadapi banyak keluarga di Maumere. Di satu sisi, pesta sambut baru dianggap sebagai ungkapan syukur dan bagian dari tradisi yang telah mengakar. Namun, di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga, kebutuhan pendidikan anak, hingga berbagai beban kehidupan membuat sebagian orang tua harus berpikir ulang untuk menggelar pesta besar.

Melalui pengalaman pribadi dan kisah sejumlah keluarga di lingkungan gereja, Urbanus mengajak masyarakat melihat makna sambut baru dari sudut pandang yang lebih sederhana. Ia menyoroti bagaimana budaya gotong royong dan bantuan keluarga sering kali menjadi penopang pelaksanaan pesta, tetapi juga dapat menimbulkan beban sosial dan utang yang harus dibayar di kemudian hari. Pertanyaan mendasarnya pun muncul: apakah rasa syukur harus selalu diwujudkan melalui pesta yang menghabiskan biaya besar?

Baca juga: SMAK Santa Maria Monte Carmelo Maumere Raih Juara 2 Lomba Konten Kreator Christian Cup I 2026

Di tengah berbagai pertimbangan tersebut, semakin banyak keluarga yang memilih merayakan Komuni Suci Pertama secara sederhana dan mengutamakan kebutuhan pendidikan anak. Bagi mereka, esensi sambut baru bukan terletak pada kemeriahan pesta, melainkan pada kedalaman iman, kebahagiaan keluarga, dan kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan. Refleksi ini menjadi pengingat bahwa kesederhanaan juga dapat menjadi bentuk syukur yang tulus dan bermakna.

Pesta Sambut Baru Vs Kesederhanaan

Kita sama-sama tahu, pesta sambut baru itu ungkapan syukur. Ungkapan syukur karena anak kita, untuk pertama kali menerima Sakramen Tubuh dan Darah Kristus. Sebagai orang tua, ada rasa bahagia dalam hati. Bahagia karena kita telah membawa anak selangkah lebih maju dalam pembinaan imannya.

Dulu kita bahagia sekali karena mereka lahir. Lalu, kita mempermandikan mereka sejak kecil karena kita percaya iman merupakan warisan paling berharga bagi anak-anak.

Baca juga: Gaji Ke-13 Rp8,85 Miliar Cair, KPPN Larantuka Salurkan untuk 2.106 Aparatur Negara di Flores Timur dan Lembata

Sekarang, kita maju satu langkah ke depan, membawa mereka untuk mendapatkan pengalaman rohani lebih dalam, bersatu dalam Yesus Kristus.

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler