Sambut Baru di Sikka: Orang Tua, Anak dan Kesederhanaan, Wajibkah Pesta?

Jika saya membuat pesta tetapi semua kebutuhan ditanggung orang lain atau menggunakan dana pinjaman, maka itu bukan ungkapan syukur yang sungguh-sungguh dari kemampuan sendiri, melainkan pesta yang lahir karena keterpaksaan.
Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya

Saat katekese Bulan Pendidikan Nasional di KBG pada awal Mei lalu, masing-masing orang tua berbagi pengalaman tentang solidaritas dan saling menopang melalui arisan pendidikan. Mereka merasa beruntung karena gerakan ini membantu anak-anak mereka melanjutkan pendidikan. Beberapa orang tua bahkan terharu hingga meneteskan air mata.

Jika hanya mengandalkan kemampuan sendiri, mereka pasrah anak cukup lulus SMA. Namun dengan gerakan ini, mereka yakin bisa menguliahkan anak-anak di Maumere. Jika mengumpulkan uang pendidikan saja begitu sulit, mengapa harus membuat pesta sambut baru dengan biaya tinggi?

Dua pengalaman di atas semakin meyakinkan saya untuk menyambut peristiwa Komuni Suci Pertama anak pada Minggu, 7 Juni 2026, dengan hati yang riang gembira, tetap menjaga kesederhanaan, dan bijak menggunakan uang.

Klik link ini untuk mendapatkan opini menarik lainnya hanya di PerspektifNusantara.com

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler