Sambut Baru di Sikka: Orang Tua, Anak dan Kesederhanaan, Wajibkah Pesta?

Jika saya membuat pesta tetapi semua kebutuhan ditanggung orang lain atau menggunakan dana pinjaman, maka itu bukan ungkapan syukur yang sungguh-sungguh dari kemampuan sendiri, melainkan pesta yang lahir karena keterpaksaan.
Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya

Untuk semua pengalaman di atas, kita bahagia. Tinggal hitungan hari saja, tepat pada Minggu, 7 Juni 2026, anak-anak akan menerima Tubuh dan Darah Kristus.

Setelah hari itu, anak-anak kita kalau pergi misa di gereja, mereka tidak lagi duduk diam saja saat komuni. Mereka akan ikut bersama kita, maju ke depan menyambut hosti kudus.

Pikiran Pesta

Waktu anak mau sambut baru, pikiran saya terbagi dua. Pertama, ikut pembinaan sambut baru selama satu bulan lebih. Kita mesti membagi waktu antara sibuk kerja dan pembinaan. Di Paroki Thomas Morus Maumere, ditekankan bahwa saat pembinaan kehadiran orang tua harus lengkap; ada bapak dan mama. Tidak boleh salah satu, karena anak datang dari kedua orang tua, dan perkembangan iman membutuhkan peran utuh orang tua.

Kedua, saya juga pikir bagaimana merayakan hari sambut baru, apakah buat pesta yang meriah, acara keluarga saja, atau gantung periuk. Gantung periuk berarti, pada hari sambut baru kami tidak punya acara di rumah, tetapi kami memutuskan untuk mengunjungi anak-anak lain yang merayakan pesta.

Ketika saya duduk memikirkan soal merancang pesta sambut baru, pikiran lain juga muncul di kepala. Bagaimana dengan kebutuhan lain? Sekarang bulan Juni, tahun ajaran baru sudah di depan mata. Anak-anak ada yang mau masuk SD dan SMP.

Buat pesta sambut baru pasti butuh uang tidak sedikit. Pesta sederhana saja, beli satu ekor babi sudah sekitar Rp10 juta. Pada saat yang sama, mendaftarkan anak masuk SD dan SMP juga membutuhkan biaya. Di satu sisi, buat pesta sambut baru dianggap “harus” karena orang lain juga membuat pesta, sudah menjadi tradisi masyarakat Maumere. Sedangkan di sisi lain, biaya sekolah adalah hal utama karena menyangkut masa depan anak.

Idealnya, pesta sambut baru bisa dibuat meriah, mengundang keluarga, teman-teman, dan para sahabat datang memenuhi tenda pesta, menikmati hidangan yang tersedia; ada babi guling, babi kecap, gulai babi, se’i, darah babi, perkedel babi, serta aneka minuman dan sajian lainnya.

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler