Sambut Baru di Sikka: Orang Tua, Anak dan Kesederhanaan, Wajibkah Pesta?

Jika saya membuat pesta tetapi semua kebutuhan ditanggung orang lain atau menggunakan dana pinjaman, maka itu bukan ungkapan syukur yang sungguh-sungguh dari kemampuan sendiri, melainkan pesta yang lahir karena keterpaksaan.
Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya

Yang penting, pada hari sambut baru bisa membahagiakan anak, orang tua juga senang karena semua relasi dengan teman, sahabat, dan keluarga tetap terjalin baik dalam jamuan pesta. Di tenda pesta, kita bisa berkumpul bersama, bercerita, berbagi pengalaman sambil mendengarkan musik, berkaraoke, dan berjoget hingga larut. Pesta yang meriah.

Ya, kadang saya berandai-andai. Kalau saja saya seorang CEO yang sedang menyamar, atau bisa mencetak uang sendiri, atau menemukan emas batangan di jalan, pasti saya buat pesta sambut baru serasa konser musik. Saya bayar penyanyi Ona Hetharua, panggil Silet Open Up, Juan Reza, Alfred Gare, dan teman-teman paduan suara OMK Katedral St. Yoseph Maumere. Dengan suara merdu mereka, tenda pesta pasti semakin semarak. Uang bukan masalah, saya bayar.

Kalau itu benar-benar terjadi, mungkin ini menjadi pesta sambut baru yang sulit ditiru oleh orang tua mana pun. Saya pecahkan rekor pesta sambut baru. Nama saya akan dikenang sebagai tuan pesta paling meriah. Selain itu, saya akan menyiapkan 5.000 nasi kotak; 2.500 nasi daging babi dan 2.500 nasi ayam.

Nasi kotak itu saya bagikan kepada warga Kota Maumere sebagai ungkapan syukur. Di atas kotak nasi, saya tempel pesan: “Mohon doa bagi anak saya yang hari ini sambut baru.”

Tapi kenyataannya tidak demikian. Ini hanya khayalan. Kenyataannya, hidup pas-pasan. Ada banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi sementara uang terbatas. Ada banyak kebutuhan yang mesti diutamakan daripada sekadar pesta. Saat uang pas-pasan, antara membayar uang sekolah anak atau membuat pesta, saya harus berpikir matang.

Barangkali saat ini orang tua lain juga menghadapi dilema yang sama. Bahkan mungkin ada yang lebih berat. Berbagai tagihan sudah menanti, mulai dari tagihan air, listrik, cicilan motor, cicilan mobil, koperasi harian, koperasi mingguan, koperasi bulanan, tagihan bank, penggadaian, arisan kelompok, renovasi rumah, pembangunan kandang babi, urusan belis yang belum selesai, biaya kuliah, uang sekolah anak, uang seragam, dan lain sebagainya. Banyak sekali pengeluaran, tetapi pemasukan tidak bertambah. Hidup penuh tantangan.

Dengan prinsip nekat pesta atau harus pesta, jika berada dalam pilihan antara membuat pesta atau menggunakan uang untuk membangun rumah, saya mungkin memilih pesta karena momen sambut baru bagi anak hanya terjadi sekali seumur hidup dan tidak bisa diulang. Membangun rumah bisa ditunda. Kalau ada rezeki nanti, rumah bisa dibangun, atau mencari jalan lain seperti pinjam uang di bank selama mampu membayar angsurannya.

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler