Dari Hoineno Menuju Jalan Misi: Keteguhan Panggilan Diakon Clitus Hausufa, SVD

Moto tahbisannya, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27), menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam perjalanan panggilannya. Moto tersebut mencerminkan keyakinan bahwa setiap proses hidup, tantangan, dan pengorbanan hanya dapat dijalani dengan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere — Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero kembali menjadi tempat lahirnya para pelayan Gereja yang siap mengabdikan hidup bagi Tuhan dan sesama. Pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang, Frater Clitus Hausufa, SVD bersama rekan-rekan seangkatannya akan menerima tahbisan diakon melalui penumpangan tangan Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Tahbisan diakon tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang panggilan hidup religius yang telah ditempuh dengan penuh kesetiaan, pengorbanan, dan semangat pelayanan. Bagi Frater Clitus, tahbisan bukan sekadar tahap menuju imamat, melainkan jawaban iman atas panggilan Tuhan yang terus menuntunnya sejak masa muda.

Frater yang memiliki nama lengkap Clitus Marselinus Hausufa, SVD ini lahir di Hoineno pada 26 April 1995. Ia berasal dari Paroki Sta. Maria Fatima Nurobo, Keuskupan Atambua. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, tenang, dan memiliki komitmen kuat dalam menjalani kehidupan religius.

Baca juga: Idul Adha 1447 H Jadi Momentum Kebangkitan Persaudaraan, WHN Ajak Rakyat Indonesia Perkuat Solidaritas Sosial

Moto tahbisannya, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27), menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam perjalanan panggilannya. Moto tersebut mencerminkan keyakinan bahwa setiap proses hidup, tantangan, dan pengorbanan hanya dapat dijalani dengan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Perjalanan pendidikan Frater Clitus dimulai di SDI Bora pada tahun 2002 hingga 2008. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Tasifeto Timur, Wedomu, dan kemudian di SMAN 1 Tasifeto Timur, Wedomu. Masa pendidikan tersebut menjadi fondasi awal pembentukan karakter, kedisiplinan, dan semangat pengabdian dalam dirinya.

Keinginan untuk menyerahkan hidup dalam pelayanan Gereja semakin kuat ketika ia memutuskan masuk Postulat St. Arnoldus Janssen Boanio pada tahun 2015. Langkah tersebut menjadi awal perjalanan panjang sebagai calon misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), kongregasi religius yang dikenal dengan semangat pewartaan lintas budaya dan bangsa.

Baca juga: KETIKA ROH KUDUS MENJANGKAU LERENG-LERENG SUNYI (Refleksi Pastoral atas Perayaan Pentakosta di Stasi Golo Wunis dan Watu Paci)

Setelah menjalani masa postulat, Frater Clitus melanjutkan pembinaan di Novisiat SVD St. Yosef Nenuk, Atambua, pada tahun 2016 hingga 2018. Masa novisiat menjadi tahap penting dalam hidup religius, tempat seorang calon religius dibentuk dalam kehidupan doa, disiplin komunitas, dan spiritualitas misioner.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru