PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE — Forum Komunikasi bertajuk “Memurnikan Niat, Menjaga Ruang Demokrasi, dan Membangun Penyelesaian Konflik yang Berkeadaban dalam Persoalan Geotermal Flores–Lembata” resmi digelar pada Kamis, 23 Juli 2026, di Kampus 2 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Kabupaten Sikka.
Acara yang diinisiasi secara kolaboratif oleh Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, IFTK Ledalero, dan Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng ini menjadi ruang akademis sekaligus mimbar kritis bagi masyarakat adat dan warga terdampak untuk menyuarakan kekhawatiran mereka atas proyek energi panas bumi (geotermal) di wilayah Flores dan Lembata.
Suasana forum hangat ketika para partisipan dan saksi hidup dari tapak konflik memaparkan kesaksian historis, trauma bencana, hingga dampak sosial yang memecah ketentraman warga.
Baca juga: Gotong Royong Bersihkan Mata Air Waikuma, Mahasiswa KKN dan Warga Bilal Wujudkan Akses Air Bersih
Trauma Bencana Masa Lalu dan Ancaman Krisis Air di Atadei
Philipus Pelile Watun, Ketua Dewan Pastoral Paroki Atadei, Kab. Lembata, hadir membagikan kesaksian mengenai kondisi geologis di wilayahnya yang dinilainya amat rentan. Philipus mengenang kembali tragedi kelam pada dekade 1970-an di Waiteba, sebuah bencana dahsyat yang menyapu kawasan tersebut dan hanya menyisakan kurang dari 30 orang selamat.
“Di seputaran Waiteba itu terdapat rongga atau patahan. Dulu saat upaya pemboran air minum dilakukan, pada kedalaman tertentu mata bor melayang-layang tidak menyentuh tanah padat. Hal yang sama terjadi saat pemboran gas bumi di Atakore. Ini membuktikan adanya rongga bawah tanah yang menyambung hingga Watuwawer. Fakta geologis seperti ini tidak pernah dibuka secara jujur kepada publik, dan kami tidak ingin masyarakat kembali menjadi korban bencana besar,” tegas Philipus.
Baca juga: Efek Kejut Satgas Pajak: Antrean BBM Subsidi di Empat SPBU Sikka Mendadak Lengang
Selain ancaman struktur tanah, Philipus menyuarakan kekhawatiran nyata terkait krisis air bersih. Belajar dari pengalaman pemboran di Atakore dan Watuwawer yang justru menyebabkan hilangnya mata air lokal, warga membayangkan ancaman kekeringan hebat jika proyek geotermal dipaksakan.