Dari Hoineno Menuju Jalan Misi: Keteguhan Panggilan Diakon Clitus Hausufa, SVD

Moto tahbisannya, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27), menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam perjalanan panggilannya. Moto tersebut mencerminkan keyakinan bahwa setiap proses hidup, tantangan, dan pengorbanan hanya dapat dijalani dengan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Perjalanan intelektualnya kemudian berlanjut di IFTK Ledalero melalui studi filsafat pada tahun 2018 hingga 2022. Ledalero dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan calon imam terbesar di Indonesia Timur yang telah melahirkan banyak imam, misionaris, dan tokoh Gereja.

Di Ledalero, Frater Clitus tidak hanya ditempa dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kepekaan sosial dan semangat pelayanan kepada masyarakat kecil. Ia dibentuk untuk menjadi pelayan Gereja yang mampu hadir di tengah persoalan umat dengan hati yang terbuka dan penuh kasih.

Pada tahun 2022 hingga 2023, Frater Clitus menjalani TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di SMPK St. Josef Freinademetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya. Pengalaman pastoral tersebut menjadi ruang pembelajaran nyata tentang bagaimana hidup bersama umat, memahami pergumulan masyarakat, dan menghadirkan pelayanan Gereja secara konkret.

Kini, Frater Clitus sedang menyelesaikan Studi Magister Teologi di IFTK Ledalero pada periode 2023 hingga 2026 sebagai bagian dari persiapan menuju tahbisan dan pelayanan pastoral yang lebih mendalam. Setelah tahbisan nanti, ia direncanakan menjalani perutusan misi di Regio SVD Bangladesh, sebuah wilayah pelayanan yang membutuhkan semangat pengabdian dan kesiapan untuk hidup di tengah keberagaman budaya dan agama.

Perutusan ke Bangladesh menjadi bukti nyata bahwa semangat misioner SVD melampaui batas geografis dan budaya. Menjadi misionaris berarti siap meninggalkan zona nyaman demi membawa nilai kasih, persaudaraan, dan Injil kepada masyarakat luas.

Tahbisan diakon yang akan berlangsung di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero diperkirakan akan dihadiri keluarga, umat, para imam, biarawan-biarawati, serta sahabat dari berbagai daerah. Perayaan tersebut menjadi sukacita besar, khususnya bagi umat Paroki Sta. Maria Fatima Nurobo dan Keuskupan Atambua.

Kehadiran Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai uskup penahbis memberi makna mendalam bagi para calon diakon. Dalam tradisi Gereja Katolik, tahbisan diakon menjadi tanda resmi penyerahan diri untuk melayani Sabda, altar, dan karya kasih bagi umat.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler