Kecambah Politik Devide et Impera di Indonesia, Patologi Bagi Stabilitas Bangsa

Kecambah politik adu domba di Indonesia seharusnya perlu direfleksikan dan dideteksi sejak dini karena dapat saja menjadi bipolar yang meluas, serta merusak tatanan sosial, kekerabatan dan mengguncang stabilitas bangsa. Hal ini dapat saja dimanfaatkan antek asing untuk memecah bela bangsa dan membangun kesadaran kolektif semu untuk meraih keuntungan pribadi dan golongan. 

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Ayah saya beragama Katolik. Ibu saya beragama Islam dan adik Ipar saya beragama Kristen. Meski dikandung dalam tiga agama, kami hidup rukun. Saat kakek dan om kandung saya datang ke rumah, tugas saya adalah mengusir anjing yang berkeliaran sekitar rumah. Saya sangat menghormati keyakinan kakek dan om saya. Demikian pula, hal yang sama saya perlakukan bagi adik Ipar saya yang beragama Kristen.

Gambaran kebhinekaan di atas adalah salah satu dari sekian cerita kebersamaan lintas agama, yang tumbuh dari satu rumah bernama Indonesia. Indonesia adalah rumah bagi setiap manusia yang berbeda keyakinan, ras, etnis dan pulau. Keberagaman itu bertumbuh indah dan saling melengkapi. Namun kerap dirusak oleh kepentingan golongan tertentu demi meraih kekuasaan. Shawat dari elit poltik ini biasanya menebarkan arus propaganda kebencian yang dapat saja mengguncang stabilitas bangsa.

Bangsa kita cepat sekali diadu domba. Dan sejarah telah mencatat, politik adu domba atau Devide et Impera, pecah belah untuk menguasai adalah bagian dari luka sejarah yang sulit dihapus dari peradaban bangsa kita. Zaman kolonial, kita bisa diadu domba oleh VOC, dengan merusak kekerabatan suku, ras dan agama dan mengambil keuntungan dari konflik internal sesama anak bangsa.

Baca juga: SAMBUT BARU dan ARISAN PENDIDIKAN: Antara Anggaran dan Prioritas, Catatan Edukatif Untuk Masyarakat Sikka

Akhir-akhir ini arus propaganda baru muncul di Indonesia. Platform media sosial Facebook penuh dengan propaganda kebencian yang bertebaran tanpa filter. Parahnya, agama-agama saling serang menyerang dan mengklaim kepemilikan surga. Agama Katolik dan Kristen, misalnya. Dua agama yang seharusnya tumbuh saling mengasihi sesuai ajaran kasih Yesus, malah saling menghujat. Padahal, jika diteliti, kedua agama bisa saling berdialog dan belajar. Agama Katolik bisa belajar dari protes Martin Luther. Reformasi itu membawa perubahan dan cara pandang Gereja Katolik. Demikian pula Kristen-Protestan, punya sejarah panjang dengan Gereja Katolik, karena Alkitab ditulis merupakan bagian dari sejarah perpanjangan tangan para Santo dan bapak Gereja.

Selain itu, perpecahan kubu pendukung Pro Israel dan Amerika Serikat Vs Iran dipropagandakan seakan mendukung Iran berarti berada di pihak Islam dan mendukung Israel berada di pihak Kristen. Padahal, kita tahu Agama-agama tak pernah mengajarkan perang, pertumpahan darah atau sengketa demi nama Tuhan, sekalipun.

Kecambah politik adu domba di Indonesia seharusnya perlu direfleksikan dan dideteksi sejak dini karena dapat saja menjadi bipolar yang meluas, serta merusak tatanan sosial, kekerabatan dan mengguncang stabilitas bangsa. Hal ini dapat saja dimanfaatkan antek asing untuk memecah bela bangsa dan membangun kesadaran kolektif semu untuk meraih keuntungan pribadi dan golongan.

Baca juga: Strengthening Student Literacy Through Proper Indonesian

Negara, bagi saya tak bisa kalah. Negara harus mendeteksi adanya pion yang bergerak senyap serta mencegah pemain catur belakang layar yang hanya bersembunyi dalam bayang, mendanai propaganda dan punya niat merusak tatanan pluralitas bangsa kita tercinta bernama Indonesia. Sebab, seperti kata Hatta dalam “Indonesia Merdeka”.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru