Kecambah Politik Devide et Impera di Indonesia, Patologi Bagi Stabilitas Bangsa

Kecambah politik adu domba di Indonesia seharusnya perlu direfleksikan dan dideteksi sejak dini karena dapat saja menjadi bipolar yang meluas, serta merusak tatanan sosial, kekerabatan dan mengguncang stabilitas bangsa. Hal ini dapat saja dimanfaatkan antek asing untuk memecah bela bangsa dan membangun kesadaran kolektif semu untuk meraih keuntungan pribadi dan golongan. 

Indonesia memiliki beberapa kelemahan, yakni: Agraris-terikat dengan tanah; mentalitas insuler-kepulauan dan seperti katak dalam tempurung.

Saya menganalisis pernyatan Hatta sebagai berikut: Pertama, Indonesia sebagai sebuah bangsa selalu terikat dengan tanah. Masyarakat kita rata-rata agraris, petani. Namun, konflik tanah selalu berbuntut panjang di negara ini. Pertumpahan darah bisa terjadi karena saling klaim kepemilikan tanah. Kedua, mentalitas insuler-kepulauan. Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang terbentang dari Sabang-Merauke. Karena terdiri dari pulau-pulau, mentalitas egoistik kepulauan sangat tinggi. Meski satu bangsa, kita kerap mengkotak-kotakan diri dengan mengatasnamakan pulau atau wilayah tertentu dan cenderung mengkerdilkan wilayah lain atau pulau lain. Selalu ada ego wilayah nampak dalam kehidupan berbangsa. Ketiga, mental katak dalam tempurung. Mental dengan wawasan sempit sehingga mudah sekali ikut arus. Kelemahan ini mesti kita rawat untuk diperbaharui agar rumah Kebhinekaan ini aman dan damai, bebas dari sengketa.*

 

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru