“Ataukah Pak Kasat Reskrim dan Pak Kapolres takut dengan Pak Saver yang dikenal legal dengan perdukunan, pesugihan, atau kekuatan gaibnya?,” tegas Iko dengan nada menyindir.
Iko bahkan melayangkan kritik menohok atas lambannya kepolisian mengungkap keterlibatan sang ayah pelaku.
“Saya pikir Saver lebih cocok jadi Kasat Reskrim atau Kapolres Sikka, kok sampai sekarang dia tidak bisa kita ungkap?” tambahnya.
Kejanggalan Beban 50 Kilo dan Rekonstruksi yang Tidak Adil
Dalam audiensi panas bersama Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, dan Kasat Reskrim, Iptu Reinhard Dionisius Siga, massa aksi secara tegas menolak premis bahwa pelaku berinisial R (Rovin)—yang juga masih di bawah umur—bertindak sebagai pelaku tunggal.
Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Iko, melontarkan kritik menohok mengenai logika beban fisik korban saat dievakuasi. Ia meragukan kapasitas fisik pelaku R untuk memindahkan jenazah korban sendirian.
”Saya yakin dan percaya, ketika si Rovin diminta pikul beras 50 kilo, dia mampu atau tidak dengan kondisi seperti itu? Lalu bagaimana kita bedah dengan berat almarhumah Ade Noni? Berat orang yang sudah meninggal itu sangat jauh berbeda dan lebih berat dari orang yang masih hidup,” ujar Iko dengan nada tinggi.
