Senada dengan Iko, Koordinator TRUK-F, Suster Fransiska Imakulata (Suster Ika), turut membongkar kejanggalan dalam proses rekonstruksi yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Suster Ika menilai rekonstruksi tersebut tidak mencerminkan fakta realitas di lapangan.
”Waktu rekonstruksi, anak itu hanya diminta bawa karung seolah-olah menarik korban. Kenapa Rovin tidak disuruh pikul jerigen atau apapun yang beratnya mengumpamakan berat korban? Supaya kita tahu dari rumah Saver apakah memang benar-benar dia sendiri? Pikul beras 50 kilo saja satu orang tidak mungkin dia bisa, apalagi fisik seperti Rovin. Kami menduga kuat bukan dia satu-satunya pelaku,” tegas Suster Ika.
Kekecewaan Terhadap Kinerja Kepolisian
Meskipun pihak Kepolisian Resor Sikka mengklaim telah bekerja semaksimal mungkin hingga kasus ini masuk ke persidangan, masyarakat dan keluarga korban merasa penanganan kasus ini masih jauh dari kata tuntas dan adil.
”Kami sebagai masyarakat berharap kepada bapak polisi untuk mengungkap itu, karena kami tidak punya kuasa untuk pergi melakukan penyelidikan atau mencari barang bukti. Dan sangat disayangkan, meskipun sudah ada putusan dan Kapolres bilang sudah maksimal, menurut kami dan keluarga korban ini tidak maksimal,” ujar Suster Ika.
Aksi unjuk rasa berjalan dengan pengawalan ketat. Massa aksi berjanji akan terus mengawal proses hukum ini hingga seluruh aktor intelektual di balik kematian tragis Almarhumah Noni diseret ke pengadilan dan dihukum seberat-beratnya.
