Bu! Batas Waktu Besok

“Nak, maaf merepotkan kamu. Ibu hanya tidak suka dibentak.”
Ilustrasi

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM. Sahabat PeNa (PerspektifNusantara). Seorang ibu selalu mengorbankan segalanya hanya ingin melihat anaknya bahagia. Ia rela kehilangan apapun. Harta bahkan nyawanya sendiri. Cerpen karya Felix Sugar berikut membahasakan bagaimana seorang ibu melakukan hal-hal tersebut. Selamat membaca.

 

Setiap kali aku membaca pesan ibu, rasanya ingin kutonjok kepala ibu. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya sedang lelah sekali.”

Baca juga: Gadis Berpayung

Sudah sebulan aku berada di Jakarta. Kota yang dulu kukira akan menjadi tempat aku menemukan masa depan ternyata membuatku lebih sering menghitung sisa uang daripada menghitung mimpi besar.

Walaupun aku seorang tamatan sarjana dengan nilai yang cukup membanggakan. Cukup tinggi tapi sederhana saja. Tapi semuanya itu tidak cukup untuk bertahan di kota ini. Apalagi ayah dan ibu sudah menghabiskan puluhan juta agar aku bisa menyelesaikan pendidikan. Tetapi sekarang, untuk membeli nasi saja aku harus berpikir berkali-kali. Apalagi ingin membeli scincare seperti anak-anak seusiaku.

Setiap hari aku mengirim lamaran pekerjaan dengan CV yang menurutku bermutu, dan elegan. Puluhan sudah kukirim, berlalu begitu saja, tetapi hampir semuanya berakhir dengan kalimat yang sama.  “Terima kasih sudah mengikuti proses rekrutmen.”  Aku sudah hafal kalimat penolakan itu. Bahkan disaat hening kata itu selalu aku ingat.

Baca juga: Tulis Tangan

*****

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru