“Bu, puji Tuhan aku sudah dapat pekerjaan bagus. Sekarang aku jadi asisten Pak Bos.” Balasan ibu datang dengan penuh semangat. “Syukuri itu, Nak. Bekerjalah dengan baik, jujur, dan tekun.” Aku tersenyum lebar. “Mulai sekarang semua kebutuhan ibu akan aku penuhi.” Ibu menjawab: “Tabung saja dulu. Ibu masih punya uang.”
Aku mengira ibu hanya sedang gengsi. Namun hari demi hari berlalu. Ibu tidak meminta uang lagi. Tidak ada permintaan beras. Tidak ada obat. Tidak ada mesin cuci. Awalnya aku senang. Kemudian aku mulai merasa aneh. “Ibu, kirim nomor rekening. Aku mau transfer.” “Sudahlah, Nak. Ibu masih ada uang.” “Uang dari kos?” “Iya.” Aku tidak bertanya lagi. Mungkin kamar kos sedang penuh.
Tetapi beberapa hari kemudian, ibu semakin jarang menghubungiku. Dulu hampir setiap malam kami berbicara. Sekarang hanya beberapa menit. “Ibu sehat?” “Sehat, Nak.” “Terus kenapa sekarang jarang telepon?” “Ibu baik-baik saja. Jangan pikirkan ibu.” Kalimat itu justru membuatku semakin khawatir. Aku belum puas, mengapa sikap ibu tiba-tiba dingin.
*****
Suatu sore aku menelepon ibu berkali-kali. Tidak juga diangkat. Aku mencoba lagi. Tetap saja tidak diangkat. Kemudian sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
“Nad, ini Mira. Anak kos ibumu.” Aku membalasnya. “Iya, kenapa?” “Tante akhir-akhir ini sering sakit.” Aku hanya terdiam. “Sakit apa?” “Kurang tahu. Beberapa kali saya antar ke rumah sakit.” Jantungku seperti berhenti. “Rumah sakit?” “Iya. Tante juga sering sendirian.” Aku menatap layar. Selama ini ibu selalu berkata baik-baik saja.
Aku langsung membeli tiket untuk pulang. Aku tiba di rumah dua hari kemudian. Dari kejauhan semuanya tampak biasa. Rumah tua dengan cat yang mulai mengelupas. Pohon mangga di halaman. Beberapa kamar kos di bagian belakang. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Hanya dua kamar yang terisi. Aku pun masuk. Ibu sedang duduk di ruang tamu. Tubuhnya terlihat lebih kurus.
